Ekobis  

KEBIJAKAN PENGHENTIAN EKSPOR BATU BARA-Pakar Ekonomi Khawatir di Kalteng Terdampak Luas

Pengamat ekonomi yang juga Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya (UPR) Fitria Husnatarina

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Kebijakan penghentian ekspor batu bara di awal tahun 2022 ini, menuai tanggapan dari pengamat ekonomi Kalimantan Tengah, Fitria Husnatarina.

Menurut  Fitria, kebijakan penghentian ekspor batu bara yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM sangat berpengaruh bagi Indonesia. Secara khusus bagi daerah-daerah di mana perusahaan eksplorasi batu bara berada. Salah satunya di Provinsi Kalteng.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya (UPR) itu menyebutkan, secara spesifik penghentian ekspor batu bara akan berdampak, tidak hanya bagi perusahaan eksplorasi batu bara, tetapi secara luas bagi perekonomian Kalteng.

“Baik itu kapasitas produksi maupun kapasitas serapan tenaga kerja. Belum lagi terkait hubungan pihak ketiga, di mana kontrak-kontrak distribusi dari permintaan pasar ekspor yang harus dipenuhi, menjadi terganggu,” bebernya saat dikonfirmasi Tabengan, Selasa, (4/1).

Fitria menilai, dengan berhentinya ekspor batu bara yang bertepatan dengan mulai bangkitnya aktivitas perekonomian secara global, pasca pandemi, tentunya memberi gambaran bahwa sebenarnya permintaan batu bara sebagai sumber energi masih cukup tinggi.

Dan, ketika Indonesia memutuskan berhenti di titik ini, maka Indonesia seperti membuang kesempatan untuk berada pada momentum pasar yang baik.

“Alih-alih memanfaatkan kondisi ini, kita malah seolah-olah menarik diri dari pasar global. Jika memang kebijakan ini ditempuh demi percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan dan ekonomi hijau, harusnya dilakukan dalam kerangka infrastruktur energi baru dan terbarukan yang sudah terbangun dengan baik atau sudah tersedianya bentuk peralihan ini. Tapi nyatanya kita memang bergerak sangat lambat di sisi ini, sehingga kebutuhan energi masih terus harus di-support oleh batu bara,” imbuhnya.

Intinya, lanjut Fitria, kebijakan tersebut akan berdampak bagi perekonomian Kalteng. Contoh sederhananya, jika kapasitas ekspor dihentikan, maka kemampuan produksi dari perusahaan tentunya akan terkoreksi sehingga aktivitas tenaga kerja juga akan ditinjau.

“Jika aktivitas tenaga kerja berkurang, maka aktivitas perekonomian juga akan berkurang karena pemicu bergeraknya ekonomi adalah manusia. Ini penting untuk diperhatikan dengan seksama, dengan tentunya jika ada kebijakan ekspor harus di-back up juga dengan kebijakan lainnya yang tidak akan merugikan perusahaan batu bara secara khusus dan perekonomian daerah penghasil batu bara secara umum,” kata Fitria.dsn

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.