Kejati Kalteng Hentikan Penuntutan 22 Perkara

Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah Iman Wijaya 

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COMKepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah Iman Wijaya menyetujui usul Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif (Restorative Justice) terhadap 2 perkara dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Barito Utara dan Kejari Katingan, Jumat (31/12).

“Sampai dengan 31 Desember 2021 di wilayah hukum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Tengah, ada 22 perkara yang dihentikan penuntutannya berdasarkan Keadilan Restoratif (Restorative Justice) sesuai Peraturan Jaksa Agung No 15 Tahun 2020,” kata Iman melalui Kasi Penkum Kejati Kalteng Dodik Mahendra.

Perkara yang ditangani Kejari Barut berlokasi pada depan sebuah rumah Dinas Pertanian Kabupaten Barut, Selasa (14/13) pagi. Seorang pria berinisial AH cemburu dengan AS lalu mendatangi rumahnya. Saat AS keluar dari halaman rumah, AH mencegatnya.

“Di sinikah tempatmu?” tanya AH. Setelah AS membenarkan, AH bertanya dengan siapa dia tinggal. “Dengan anak istri,” jawab AS. AH kemudian menyuruhnya duduk dan mendadak memukulnya pada bagian pelipis dan hidung.

Ketika AS terjatuh, AH justru menginjak-injaknya. Perbuatan AH baru terhenti setelah istri AS datang dan melerai mereka. Akibat perbuatan AH, AS mengalami luka memar pada kelopak mata dan pendarahan pada hidung.
Sedangkan perkara pada Kejari Katingan terjadi pada wilayah  PT Persada Sejahtera Agro Makmur (PSAM), Sabtu (6/11). Awalnya JP mendatangi Wi di Kantor PT PSAM untuk menanyakan gajinya. Wi meminta JP untuk bertanya kepada Fah.

Namun, kemudian Fah justru menyuruh JP menemui NAF. JP kemudian datang kembali pada sore hari, tapi dalam keadaan mabuk ke perumahan staf kebun II PT PSAM di Desa Rantau Bangkiang, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan.

Melihat NAF yang sedang duduk di halam depan rumah, JP membuka tas selempangnya dan mengambil sebuah senjata tajam jenis pisau. JP mendadak menyerang menggunakan pisau itu, namun NAF berhasil menghindar dengan meloncat ke belakang kursi, sehingga pisau hanya menancap pada meja kayu.

NAF segera masuk ke dalam rumah, namun JP berusaha mengejar dan menendang pintu supaya terbuka. NAF terus berusaha menahan pintu dari dalam rumah agar tidak terbuk,a hingga akhirnya warga dan satuan pengamanan datang melerai dan mengamankan JP.

“Setelah dimediasi oleh masing-masing Tim JPU, baik dari Kejari Katingan maupun Kejari Barito Utara, tercapai kesepakatan damai antara masing-masing korban dan keluarganya, dengan disaksikan oleh tokoh masyarakat serta penyidik,” kata Dodik.

Dalam ekspose, Jaksa Muda Pidana Umum melalui Direktur Orang dan Harta Benda  memberikan apresiasi terhadap jajaran Kejati Kalteng, khususnya Kejari Katingan dan Kejari Barut atas Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif tersebut.

Apalagi Kejati Kalteng berhasil melakukan mediasi yang berujung penghentian penuntutan 22 perkara berdasarkan prinsip keadilan restoratif hingga 31 Desember 2021. dre

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.