Hukrim  

Jual Tanah kepada 2 Orang Berbeda, Dituntut 2,5 Tahun Penjara

Terdakwa penipuan menjalani sidang di Pengadilan Negeri Palangka Raya, Selasa (7/12). ANDRE

PALANGKA RAYA- Akibat menjual sebidang  tanah kepada 2 orang berbeda, Kevin Juanda selaku terdakwa perkara penipuan terancam tuntutan 2,5 tahun dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang Pengadilan Negeri Palangka Raya, Selasa (7/12).

“Pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan penjara,” ujar JPU dalam persidangan. Dalam catatan pengadilan, Kevin sebelumnya juga pernah masuk penjara akibat mencuri barang elektronik di kampus STIKES Eka Harap.
Perkara berawal saat Siti Marfu’ah tertarik dengan iklan penjualan tanah di Jalan Sapan Ujung pada akun media sosial Facebook milik Kevin pada Agustus 2020. Setelah melihat lokasi tanah, Koswara yakni suami Siti menyatakan tidak tertarik dan batal membeli.

Esok hari, Kevin menghubungi Siti dan menawarkan tanah lain di Jalan Badak Ujung.  Ketika mendatangi tanah di Jalan Banteng VI atau Jalan Badak Lurus tersebut, Siti dan Koswara bertemu dengan Kevin dan Ketua RT, Undit.

Kevin menawarkan harga Rp35 juta dan s menunjukan fotokopi warkah tanah verklaring dan Surat Pernyataan sebidang tanah atas nama Mutiara yaitu ibu dari Kevin. Dia juga menawarkan mengurus surat tanah atas nama Koswara.

Koswara dan Siti tertarik dan berniat membeli dengan cara mencicil dan pembayaran pertama sebesar Rp5 juta di rumah Kevin Jalan Sapan I disaksikan adik dan ayah Kevin, Selasa (18/8/2020). Siti juga mentransfer Rp2 juta biaya pengurusan balik nama SPPT menjadi nama Koswara, Selasa (25/8/2020).

Seminggu kemudian Kevin menemui Koswara di Hotel Obelix untuk menunjukan SPPT tersebut. Karena ada kesalahan tanggal lahir tidak sesuai KTP,  Koswara meminta direvisi. Beberapa hari kemudian Kevin membawa fotokopi SPPT ke rumah Koswara dan berjanji menyerahkan dokumen asli setelah pelunasan pembayaran.

Pada September 2020, Siti sesuai permintaan Kevin menyerahkan biaya pengurusan pajak Rp500.000. Siti juga beberapa kali menyerahkan uang antara Rp1,5 juta hingga Rp7 juta kepada Kevin untuk pembayaran cicilan pembelian tanah pada bulan September hingga November 2020.

Total pembayaran sebesar Rp35 juta telah diterima lalu Kevin membuat kuitansi pelunasan pembayaran. Koswara meminta SPPT asli, namun saat itu Kevin menawarkan mengurus SPPT tanah menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) karena ada tantenya kerja di BPN. Koswara dan saksi Siti setuju mencicil biaya administrasi pembuatan SHM sebesar Rp6 juta.

Setelah menyerahkan total Rp3,6 juta, Siti mengatakan sisa cicilan sebesar Rp2,4 juta akan dibayarkan setelah sertifikat mereka terima. Setelah mengambil uang Rp3,6 juta, Kevin justru menghilang sekaligus memblokir nomor ponsel Koswara dan Siti.

Karena tidak mengetahui keberadaan Kevin, Siti hendak menjual tanah tersebut melalui Facebook. Benni Ralinnton yang melihat postingan Siti menghubungi dan menyatakan tanah yang dijual adalah miliknya. Koswara dan Siti lalu mendatangi Kevin di rumahnya untuk minta penjelasan, Sabtu (13/2/2021).

Kevin mengaku bahwa tanah tersebut memang benar telah dijual sebelumnya kepada Benni namun tidak jadi dikarenakan setelah dicek bahwa ada sertifikat di atas tanah tersebut sehingga Benni meminta agar uangnya dikembalikan.

Karena tidak ada uang, timbul niat Kevin untuk menjual kembali tanah tersebut walaupun diketahuinya bahwa ada alas hak orang lain diatas tanah tersebut. Atas kejadian tersebut, Koswara mengaku mengalami kerugian sebesar  Rp41,1 juta lalu melapor ke pihak kepolisian. Dalam persidangan, JPU menjerat Kevin dengan ancaman pidana dalam Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. dre

Penulis: AndreEditor: Haris Lesmana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.