BUDAYA  

SOMULANG NYAI SAWANG LENGAK TINGANG-Sendratari Tentang Kebenaran  Sumber Kedamaian

ISTIMEWA MALAM PUNCAK - Disbudpar Kalteng melalui UPT Taman Budaya Kalteng menggelar malam puncak rangkaian kegiatan seni budaya. Malam puncak menampilkan sendratari dengan judul Somulang Nyai Sawang Lengak Tingang, Selasa (6/12) di Palangka Raya.

PALANGKA RAYA/TABENGAN/COM – Sendratari tahun 2021 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah (Disbudpar Kalteng), melalui UPT Taman Budaya Kalteng secara resmi berakhir. Malam puncak rangkaian kegiatan gelar seni budaya dan sendratari ditutup dengan penampilan sendratari berjudul Somulang Nyai Sawang Lengak Tingang.

Somulang Nyai Sawang Lengak Tingang sebuah karya refroduksi dari film tari Tuai Menuai Ku Semai yang diadaptasi kembali menjadi satu benag merah. Cerita yang mengangkat sebuah kisah baru tentang perjalanan spiritual kehidupan di dunia. Karya sendratari menceritakan perjalanan hidup, dan kematian seorang perempuan sakti bernama Nyai Sawang Lengak Tingang. Sendratari ini menceritakan perjalanan spiritual, cinta, rindu, dendam, dan angkara murka para tokoh lauan dalam cerita.

Sendratari yang merupakan malam puncak, dilaksanakan secara virtual. Dimana, penonton yang hadir di UPT Taman Budaya menyaksikan secara virtual, sementara penonton di rumha dapat menyaksikan melalui streaming youtube UPT Taman Budaya Kalteng.

Kepala UPT Taman Budaya Kalteng Suraji, mengatakan, selama tahun 2021 ini pihaknya bergandengan tangan dengan para pelaku seni untuk memanfaatkan panggung UPT Taman Budaya Kalteng. pagelaran film dari sendratari itu setidaknya sebagai bagian dari upaya perlindungan, pembinaan dan pengembangan kearifan lokal di Kalteng.

“Tim Produksi Sendratari melakukan latihan dengan hati yang ikhlas, cerdas, totalitas, tanpa batas, Lintas batas dan berusaha berkualitas. Kita patut bersyukur karena generasi muda ikut serta dalam melestarikan seni budaya yang adi luhung dengan mengedepankan tari-tarian yang merupakan kearifan budaya lokal,” kata Suraji, dalam sambutannya, Senin (6/12) di Palangka Raya.

Sendratari ini, kata Suraji, memberikan pandangan bagi seluruh masyarakat, kebenaran tetaplah kebenaran, baik dalam suka atau duka, serta baik atau buruknya kehidupan di dunia. Dan, kebenaran itulah sumber Damai Sejahtera guna menemukan ilmu kesaktian hidup demi kehidupan yang lebih baik.

Hikmah dari Sendratari Ini, ungkap Suraji, bagi kami adalah katakan benar kalau memang itu benar, dan sebaliknya. Hidup itu pilihan, memilih berbuat baik atau buruk.ded

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.