Saleh Untung Rp2 Miliar/Bulan dari Bisnis Sabu

  • Bagikan
PEMUSNAHAN - Kepala BNNP Kalteng Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan ketika memusnahkan sabu, Kamis (2/12). ISTIMEWA
  • Jadi Otak Bisnis Sabu di Kampung Ponton
  • BNN Minta JPU Tuntut Maksimal atau Hukuman Mati

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kalimantan Tengah memusnahkan barang bukti sabu seberat 197 gram milik bandar besar sabu di Palangka Raya, Saleh, Kamis (2/12/2021).  Mengenal sepak terjangnya yang terkenal di kalangan aparat penegak hukum karena peredaran narkoba, BNN pun meminta kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk bisa memberikan tuntutan maksimal atau hukuman mati kepada tersangka.

Saleh yang memiliki nama asli Salihin, ditangkap tim gabungan BNNP Kalteng bersama BNNK Palangka Raya dan Ditsamapta Polda Kalteng pada Kamis (21/10/2021) lalu, di Kampung Ponton, Jalan Rindang Banua, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya.

“Barang bukti milik tersangka bernama saleh ada sebanyak 200 gram atau 2 ons. Dari barang bukti yang ada itu, sebagian disisihkan untuk kepentingan persidangan. Sehingga setelah disisihkan kemudian ditetapkan status barang bukti oleh kejaksaan negeri menjadi 197 gram,” kata Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan, Kepala BNNP Kalteng, saat memimpin pemusnahan sabu, Kamis (2/12).

Roy menerangkan, Saleh adalah otak dari peredaran narkotika yang ada di wilayah Kampung Ponton. Dari hasil penyelidikan dan pengembangan penyidikan, yang bersangkutan memiliki omzet penghasilan yang luar biasa dalam satu bulan. “Dalam satu bulan tersangka Saleh bisa meraup untung Rp2 Miliar. Bisnis ini sudah dijalankan bertahun-tahun. Yang kami dapat itu sekitar 2 sampai 3 tahun terakhir ini,” terangnya.

Untuk jaringannya peredaran narkoba, lanjut Roy, BNN akan terus mengembangkan terlebih dulu. Tersangka mengakui barang itu berasal dari wilayah Kalimantan Selatan. Selama ini yang diproses adalah orang-orang yang merupakan kaki tangannya saja. Tetapi sekarang BNN berhasil mengungkap dan menangkap otak pelakunya.

“Kami meminta kepada pihak Jaksa Penuntut Umum untuk memberikan tuntutan maksimal kepada yang bersangkutan. Pidana 20 tahun hingga hukuman mati,” tegasnya.  Dijelaskan, jangkauan Saleh ini luas. Dia sebagai otak, saat ini hanya beroperasi di sana. Tetapi untuk wilayah Palangka Raya, dia juga melakukannya. Jadi tidak hanya Kampung Pointon saja.

Setiap menerima barang, Saleh acapkali mengambil dalam jumlah kilogram. Sehingga keuntungannya dalam bisnisnya sangat besar.  Kondisi kampung Ponton pasca Saleh ditangkap, adanya penurunan peredaran di wilayah itu. Bahkan ada beberapa yang diindikasi sebagai jaringannya kini diduga tengah melarikan diri. “Kami akan selalu serius. Tidak hanya wilayah Kota Palangka Raya saja, tetapi seluruh wilayah di Kalteng ini akan tindak seluruh peredaran gelap narkotika,” tuturnya.  fwa 

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *