Ritual Marasih Ramu, Doa Syukur Melandainya Covid-19 dan Banjir

  • Bagikan
Basir atau tokoh keagamaan umat Kaharingan melantunkan doa-doa untuk memberikan ketenangan bagi para roh yang bersemayam di benda-benda pusaka di UPT Museum Balanga Kalteng, Kamis (25/11), pada kegiatan Ritual Marasih Ramu. DEDY

Tak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan tertimpa bencana. Berbagai upaya dilakukan apabila memang mampu meluputkan diri dari bencana. Upaya yang dapat dilakukan hanyalah berdoa dan bersyukur atas apa yang sudah terjadi, dan syukur pula atas berakhirnya bencana tersebut.

Di Indonesia khususnya di Kalimantan Tengah (Kalteng), bencana datang silih berganti. Tidak cukup dengan pandemi Covid-19, Kalteng diterjang bencana banjir selama 2 kali. Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kalteng sedikit banyak mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya masalah transportasi.

Perlahan, bencana Covid-19 melandai, bencana banjir mulai surut, hanya ucapan syukur dan doa yang dapat dipanjatkan atas itu semua. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng melalui UPT Museum Balanga dan UPT Taman Budaya berkolaborasi dalam menggelar ucapan syukur dan doa atas melandai bencana Covid-19 dan surutnya air.

Ritual Marasih Ramu digelar sebagai bentuk ucapan syukur dan doa atas melandainya bencana non alam Covid-19, dan bencana alam berupa banjir yang sudah surut.

Ada 5 basir atau tokoh keagamaan Kaharingan yang memimpin ritual. Basir Upu atau pemimpin Rabiadi, sementara 4 basir panggapit atau pendamping yakni basir Bokot, basir Tambang, basir Riandi, dan basir Yopi.

Ritual Marasih Ramu 2021 tidak saja untuk memanjatkan doa dan ucapan syukur atas bencana yang berlalu, tapi juga untuk menenangkan roh-roh yang bersemayam dalam benda-benda di UPT Museum Balanga Kalteng. Doa-doa dipanjatkan sehingga mampu memberikan ketenangan.

Tidak saja doa yang dipanjatkan, tapi juga disiapkan sesajen bagi para roh penunggu benda-benda tersebut. Ritual Marasih Ramu bertujuan pula untuk memberikan ketenangan bagi para arwah yang bersemayam dalam benda-benda pusaka.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Guntur Talajan mengakui, ucapan syukur dan doa sangat penting dan wajib untuk disampaikan. Bencana yang berlalu tentunya sebuah berkat tersendiri. Semoga bencana seperti banjir tidak lagi terjadi, demikian pula dengan pandemi Covid-19 dapat segera berakhir.

Marasih Ramu tidak semata untuk memanjatkan doa atas bencana yang berakhir. Ritual ini menjadi agenda rutin yang dilakukan setiap tahun, yang tujuannya menenangkan para roh yang bersemayam dalam benda-benda pusaka di UPT Museum Balanga Kalteng,” kata Guntur singkat, Kamis (25/11), di Palangka Raya.

Ritual Marasih Ramu dilaksanakan selama 2 hari, Kamis dan Jumat. Berbagai kebutuhan seperti sesajen dan kebutuhan ritual lainnya sudah dipersiapkan. Tokoh Kaharingan ini pula memotong 1 ekor babi yang nantinya akan dimasak dan dijadikan sesajen. dedy

Penulis: DedyEditor: Haris Lesmana
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *