Banjir Sebabkan Air Perumdam Keruh

  • Bagikan
TABENGAN/FERRY WAHYUDI TERDAMPAK- Direktur Perumdam Palangka Raya Budi Harjono memperlihatkan kondisi penampungan air di Perumdam.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Kenaikan debit air di Sungai Kahayan dan banjir yang terjadi belakangan ini, ternyata turut menyebabkan turunnya kualitas air di Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Kota Palangka Raya.

Banjir menyebabkan kualitas air baku menurun karena warna air gambut tinggi dan pekat, sehingga menyulitkan untuk proses pengelolaan air bersih. Warna air gambut yang pekat dipengaruhi bertemunya aliran air dari Sungai Kahayan dan Sungai Rungan.

Penurunan kualitas air dari Perumdam Palangka Raya ditandai dengan air yang didistribusikan ke pelanggan menjadi keruh.

Direktur Perumdam Palangka Raya Budi Harjono mengatakan, kondisi air keruh terjadi selama 3 hari belakangan ini dan berdampak pada keluhan pelanggan ke Kantor Perumdam.

“Kondisi dalam 3-4 hari terakhir ini kualitas air yang kami distribusikan ada penurunan karena air baku banjir yang terjadi di Palangka raya berimbas pada air baku yang kita olah. Kandungan warna air gambut cukup tinggi sehingga kesulitan dalam pengolahan,” katanya, Kamis (25/11).

Dia menuturkan, kualitas air akan kembali normal mulai nanti malam setelah proses pengolahan turut menambahkan tanah liat sebagai media pengikat pekatnya warna air gambut. Sebelumnya penggunaan tanah liat sudah dilakukan, namun komposisi yang menghasilkan kualitas air baik baru terlihat.

“Penurunan kualitas air kemarin berdampak kepada seluruh pelanggan di Palangka Raya, yakni 14 ribu pelanggan. Namun, yang sangat berdampak ada sekitar 3.000-4.000 pelanggan yang memang tinggal di dekat jalur distribusi air,” jelasnya.

Mengantisipasi kurang bagusnya kualitas air yang didistribusikan, Perumdam juga akan melaksanakan pencucian pipa di beberapa titik di Kota Palangka Raya. “Mulai malam nanti sudah normal,” tandasnya. fwa

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *