MANTAN MENTERI LH – Hutan Kalimantan Dibabat Besar-besaran

  • Bagikan
Alexander Sonny Keraf, dosen Filsafat dan mantan Menteri Lingkungan Hidup era Presiden Abdurahman Wahid

*Pembukaan Lahan Harus dihentikan, Hutan Gundul Ditanami

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Musibah banjir besar yang datang bertubi-tubi di Kalimantan Tengah (Kalteng) adalah buah dari kerusakan alam. Dimulai dari banjir besar di Kalimantan Selatan pada Januari 2021, banjir akan terus terjadi di Kalsel dan Kalteng pada tahun-tahun mendatang, bahkan cenderung lebih parah.

Alexander Sonny Keraf, dosen Filsafat dan mantan Menteri Lingkungan Hidup era Presiden Abdurahman Wahid, menjabarkan penyebab dan solusi banjir dalam wawancara dengan Tabengan, Senin (22/11), di kediamannya di Jalan Damang Batu Palangka Raya. Sonny menyebutkan bencana alam terjadi karena kerusakan alam.

Dunia saat ini menghadapi fenomena perubahan iklim yang juga terjadi di Indonesia. Perubahan iklim memicu anomali cuaca. Hujan bisa turun di atas ambang normal dan berlangsung lama. Sementara kemarau dapat berlangsung lama hingga memicu kekeringan.

Hujan ekstrem saat penghujan memicu banjir besar karena minimnya hutan sebagai daerah resapan. Air hujan langsung mengalir ke sungai dan danau, yang kemudian meluap dan menggenangi hingga permukiman penduduk. Fungsi hutan Kalimantan yang dulu disebut sebagai paru-paru dunia, dibabat secara besar-besaran. Pemerintah atas nama pembangunan mengizinkan investor menggunduli hutan, kemudian digantikan dengan sawit, tambang dan belakangan singkong melalui Food Estate.

Sonny merasa heran atas keputusan pemerintah memilih Gunung Mas sebagai lokasi singkongisasi melalui Food Estate.

“Seolah singkong lebih berharga dari fungsi hutan dan alam,” kata Sonny.  Di saat banjir seperti ini, sudah menjadi biasa orang ribut di mana-mana. Pemerintah pusat dan daerah terkesan saling lempar tanggung jawab. Dan setelah banjir surut, semua orang lupa dan kembali kepada masing-masing kepentingan ekonomi dan bisnis.

Hutan dibuka lagi untuk investasi. Maka tak heran jika bencana seperti ini akan terus berlanjut dari tahun ke tahun, bahkan cenderung lebih parah. Masyarakat mau tak mau dipaksa harus beradaptasi dengan banjir besar yang akan terjadi di mana-mana.

Kerusakan alam membawa dampak luas bagi kehidupan. Tak hanya banjir. Bahkan pandemi Covid-19, menurut Sonny, terjadi akibat kerusakan lingkungan. Virus-virus melakukan mutasi gen untuk mempertahankan diri. Maka jangan heran jika banyak virus ganas bermunculan pada masa-masa mendatang, sebagai dampak dari kerusakan ekosistem lingkungan.

Bagaimana cara menghentikan? Sonny berpendapat harus ada niat baik dari pemerintah. Hutan yang masih tersisa harus diselamatkan. Pembukaan lahan baru harus disetop. Sejumlah peraturan yang menjadi karpet merah bagi pembukaan lahan, harus dicabut. Seperti Peraturan Pemerintah (PP) 23 Tahun 2001.

Penghentian pembukaan lahan dibarengi dengan upaya untuk menanam kembali hutan yang sudah gundul. Dunia internasional sudah memiliki niat baik untuk memberikan kompensasi bagi negara penghasil karbon.

“Saat ini kalau tidak salah di Katingan dan Sampit sudah ada perusahaan carbon trading. Tinggal perusahaan ini menggandeng masyarakat agar ikut mendapat kompensasi karena turut menjaga alam dan ekosistemnya,” kata Sonny.

Upaya penyelamatan lingkungan merupakan langkah untuk menyelamatkan kehidupan semua umat manusia. Jika hutan terus dirusak dan ekosistem hancur, maka umat manusia harus bersiap untuk menghadapi musibah yang lebih parah. Cuaca ekstrem akan terus berlanjut. Saat kemarau akan terjadi kebakaran di mana-mana, ketika hujan turun harus bersiap menghadapi banjir besar.

“Maka itu, tidak ada pilihan lain jika ingin menyelamatkan kehidupan umat manusia, harus menjaga keseimbangan lingkungan. Hentikan pembukaan lahan, hutan yang masih tersisa harus diselamatkan, kemudian dilakukan penanaman kembali atau reboisasi,” kata Sonny, yang juga anggota Dewan Energi Nasional ini.  mel

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *