WISATA ZIARAH PAHLAWAN-Siswa Diingatkan Pentingnya Restorasi Sosial

  • Bagikan
Tabengan/Dedy Ziarah - Kepala Seksi Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Dinas Sosial Kalteng Noriyah,bersama dengan guru pendamping melakukan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, pada rangkaian kegiatan Wisata Ziarah Makam memperingati Hari Pahlawan, Kamis (18/11) di Palangka Raya

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Momentum  Hari Pahlawan pada 10 November 2021 lalu, kembali dilaksanakan Seksi Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Dinas Sosial Kalimantan Tengah (Kalteng), yakni dengan menggelar upacara di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Kamis (18/11), bersama dengan sejumlah pelajar dari berbagai sekolah di Palangka Raya.

Kepala Seksi Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Dinas Sosial Kalteng Noriyah, mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghormati jasa para pahlawannya. Pengorbanan dan tetesan darah para pahlawan, membuat kita saat dapat menghirup udara kebebasan dan kemerdekaan.

Noriyah menyampaikan, sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak terlepas dari semua perjuangan yang dilakukan oleh seluruh bangsa dan rakyat dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kalteng. Bukti sejarahnya, sebanyak 67 pahlawan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, dan 5 Pahlawan dimakamkan di Taman Makam Bahagia.

“Diantara para pahlawan yang dimakamkan itu, salah satunya adalah putra terbaik bangsa dari Kalteng yaitu Pahlawan Nasional Tjilik Riwut. Tjilik Riwut merupakan putra Dayak asli, yang pada masa kemerdekaan ikut memperjuangkan kemerdekaan bagi wilayah Kalteng,” kata Noriyah, usah upacara Wisata Ziarah Pahlawan, Kamis (18/11) di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang.

Noriyah melanjutkan, globalisasi dan modernisasi yang melanda hampir seluruh negara di dunia, dewasa ini membawa perubahan positif pada sistem kehidupan manusia. Baik aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik maupun pola kehidupan sosial budaya. Disisi lain berdampak munculnya degradasi mental yang ditandai dengan semakin menurunnya solidaritas sosial, dan semakin memudarnya rasa kesetiakawanan sosial.

Kondisi semacam, tegas Noriyah, ini menuntut semua pihak untuk melakukan gerakan revolusi mental, melalui restorasi sosial. Upaya mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa. Restorasi sosial memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalam jiwa, dan semangat bangsa Indonesia. Yaitu nilai kepahlawanan, seperti saling tolong menolong dengan ikhlas, berani membela kebenaran dan keadilan, rela berkorban, bertindak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai Keperintisan seperti menjadi suri tauladan, mau melakukan inovasi untuk kemajuan dan pantang menyerah. Nilai kesetiakawanan sosial seperti peduli kepada orang lain, mau berbagi dan gotong royong. Untuk itu pada kesempatan ini kami mengajak kepada kita semua untuk khususnya bapak/ibu guru/pendamping, budayakan kembali pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan, dan restorasi sosial di lingkungan sekolah.

Dimilikinya kembali nilai-nilai dan semangat kepahlawanan, ungkap Noriyah, keperintisan dan kesetiakawanan tersebut diharapkan menjadi sendi-sendi baru yang akan memperkuat ketahanan setiap insan Indonesia dalam, memperoleh kesejahteraan sosialnya yang hakiki.ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *