BANJIR PALANGKA RAYA-2.751 Warga Mengungsi ke Posko

  • Bagikan
TABENGAN/YULIANUS STEFAN LUNDJU MENGUNGSI- Sejumlah warga 18 RT dan RW kawasan Flamboyan Bawah, yang mengungsi di GOR KONI Sanaman Mantikei. Tampak banjir masih melanda komplek pasar Mendawai. Tampak banjir di komplek Flamboyan bawah jadi tempat mandi masyarakat.

*Masyarakat Butuh Konsumsi dan Toilet

PALANGKA RAYA- Bencana banjir yang melanda Kota Palangka Raya sejak pekan lalu, mengakibatkan kerugian moril dan materiil bagi ribuan masyarakat. Hingga Kamis (18/11) pagi, banjir sudah merendam 5 kecamatan dan 21 kelurahan di Kota Cantik.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Emi Abriyani menyebutkan, wilayah yang terdampak banjir adalah Kecamatan Sabangau, Pahandut, Jekan Raya, Bukit Batu dan Rakumpit.

Di Kecamatan Sabangau, setidaknya 4 kelurahan yaitu Kelurahan Kameloh Baru, Danau Tundai, Bereng Bengkel dan Kalampangan. Dampak banjir dialami 21 RT, 579 rumah, 966 KK, 7 masjid dan musala, 1 gereja, 4 sekolah, 1 kantor kelurahan dan 3 Pustu/Polindes.

Sedangkan di Kecamatan Bukit Batu, ada 5 kelurahan yang terdampak, Kelurahan Sei Gohong, Tangkiling, Banturung, Tumbang Tahai dan Marang. Setidaknya ada 12 RT, 391 rumah, 485 KK dan 1 masjid atau musala yang terdampak.

Kemudian di Kecamatan Rakumpit, wilayah yang terendam Kelurahan Petuk Barunai, Pager dan Petuk Bukit, sebanyak 33 rumah dan 33 KK terdampak.

“Di Kecamatan Pahandut ada 49 RT, 1.418 Kepala Keluarga dan 3.430 jiwa yang terdampak. Sedangkan di Kecamatan Jekan Raya ada 32 RT, 2.246 Kepala Keluarga serta 3.203 jiwa terdampak banjir,” ungkapnya, Kamis (18/11).

Menurut Emi, saat ini telah didirikan 20 posko pengungsian dan darurat banjir yang tersebar di seluruh wilayah terdampak. Pada Kamis pukul 13.00 WIB, sebanyak 2.751 jiwa terpaksa harus mengungsi karena rumahnya mulai terendam banjir dengan ketinggian bervariasi mulai semata kaki hingga sepinggang orang dewasa.

Dikatakan, pengungsi terbanyak ada di Posko Pengungsian Pasar Kahayan dengan 1.093 jiwa yang terdiri dari 599 orang dewasa, 448 anak-anak, 26 balita dan 20 lansia. Kemudian Posko Pelabuhan Rambang ada 301 jiwa yang terdiri dari 168 dewasa, 95 anak-anak, 25 balita serta 13 lansia. Sedangkan posko pengungsian di Posko Bandara Lama masih terisi 8 orang pengungsi dewasa.

Sementara itu, Kepala Seksi Logistik BPBD Kota Palangka Raya Toni mengatakan, saat ini ketersediaan logistik mayoritas posko pengungsian dalam keadaan terkendali. Kebutuhan akan makanan dan minuman, serta obat-obatan masih cukup dalam beberapa hari ke depan. Terlebih sejumlah pihak banyak yang memberikan bantuan guna disalurkan kepada para korban terdampak banjir.

“Untuk layanan kesehatan terutama di Posko Induk Jalan Arut, sudah ada pihak Dinas Kesehatan Kota, Biddokes Polda Kalteng, dan relawan juga sudah ada. Termasuk mobil kesehatan khusus vaksinasi Covid-19 yang juga siap melayani pengungsi. Ketersediaan dapur umum dan MCK sejauh ini sudah ada,” ujar Toni.

Hamid, salah satu pengungsi di Posko Pengungsian Jalan Arut, mengatakan, saat ini kondisi pengungsian cukup baik. Ia berharap ada penambahan fasilitas MCK atau toilet portabel di sekitar posko, sebab saat ini dengan membeludaknya pengungsi, fasilitas tersebut haruslah turut ditambah. Terlebih toilet portabel yang ada saat ini kurang nyaman, karena jalan menuju toilet yang tepat berada di belakang posko pengungsian sudah terendam air.

“Kami para lansia lebih memilih untuk berada di tenda pengungsian karena air di belakang sudah cukup tinggi. Dapur umum yang disediakan masih cukup untuk bisa kami makan setiap hari. Bantuan secara personal ada beberapa kali pemerintah kota maupun pihak lainnya sudah salurkan. Baik itu nasi bungkus atau roti. Harapannya agar toilet bisa ditambah lagi dan diletakkan di lokasi yang nyaman. Juga semoga banjir ini bisa segera surut agar saya dan keluarga bisa kembali berjualan di pasar,” katanya.

Pengungsi Butuh Konsumsi

Ketua RT 03 Flamboyan Bawah Satria mengatakan, jumlah pengungsi di GOR KONI diperkirakan berjumlah 200 orang. Ada 18 RT dan RW yang tergabung di dalamnya, mencakup kepala keluarga dan sanak saudaranya, lansia hingga anak-anak.

Menurut Satria, secara keseluruhan pengungsi cukup sehat, karena apabila ada yang sakit tersedia pos kesehatan darurat di GOR tersebut. Untuk MCK dan kebutuhan terkait, disediakan hanya 3 toilet. Terpaksa masyarakat pengungsi yang ingin mandi atau pun keperluan lainnya mengantre.

Namun, kebutuhan mendesak yang perlu ditindaklanjuti adalah konsumsi/makan pagi, siang/sore hingga malam. Selain itu, sembilan bahan pokok seperti gula, kopi, beras dan lainnya sangat diperlukan dan wajib tersedia.

Memang, ucap dia, bantuan makanan terkadang selalu datang setiap hari, khususnya dari para donatur, baik secara institusi maupun perorangan. Misalnya dari Korem, Kodim dan beberapa instansi di lingkup kota hingga provinsi, seperti Disperkimtan dan lainnya.

Ketika disinggung apakah sudah ada bantuan makanan intens dari provinsi secara langsung, dia mengakui masih belum ada informasi.

“Memang ada Pak Gubernur datang meninjau dan kasih bantuan uang kepada anak-anak maupun lansia. Namun, untuk konsumsi yang intens setiap harinya dari provinsi terindikasi masih belum,” ujar pria murah senyum tersebut.

Sementara ini, ujarnya, bantuan yang ada terkadang datang dari penggalangan dana secara mandiri. Terkait itu, ia berharap ada bantuan makanan yang datang setiap harinya dalam upaya menunjang makan masyarakat pengungsi, paling tidak 3 kali sehari.

Bakung Merang Kesulitan WC Umum

Sejumlah pengungsi terdampak banjir di Jalan Bakung Merang, Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, yang mengungsi di seputaran terminal lama Bandara Tjilik Riwut, kesulitan WC atau toilet umum. Mereka sangat mengharapkan perhatian pemerintah.

Dari pantauan Tabengan di lapangan, ratusan pengungsi yang menempati daerah tersebut banyak yang mengeluh karena kurangnya toilet atau WC umum di lokasi pengungsian. Memang toilet terminal lama tersebut ada, namun kondisinya sangat kotor dan kurang terawat.

Salah satu pengungsi Misnawati, warga Bakung Merang, mengatakan, kurang lebih 5 malam telah mengungsi di lokasi tersebut. Sementara untuk keperluan mandi dirinya mendapat izin menggunakan toilet Bandara Kargo. Namun, kondisinya sangat memprihatinkan. “Untuk cuci piring, bisa menggunakan air di musala,” ungkapnya.

Sementara untuk kebutuhan air minum dia bersama keluarganya menggunakan air mineral kemasan.

“Awalnya WC di kargo kurang bersih, namun saya bersama warga mencoba membersihkan karena banyak jamur dan sekarang sudah bisa dimanfaatkan masyarakat yang mengungsi,” terang Misnawati.

Sakdiah, warga Bakung Merang lainnya, mengakui untuk keperluan mandi dan lain-lain terpaksa menggunakan fasilitas yang tersedia di terminal Bandara Lama. Sedangkan untuk keperluan minum, membeli air mineral di Jalan Bangaris yang cukup jauh dari posko.

Sebab itu, ia meminta kepada pemerintah untuk memerhatikan kondisi pengungsi di daerah tersebut. “Kita berharap banjir segera surut dan ada kepedulian dari pemerintah untuk memerhatikan kita di sini,” harapnya. rgb/drn/dsn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *