Ahli Waris Tuntut Ganti Rugi ke PT KIU

  • Bagikan
SENGKETA- Kuburan yang berada di tengah kebun sawit PT KIU yang diklaim oleh ahli waris.TABENGAN/PRASGIANTORO

*Ada Kuburan di Tengah Kebun Sawit

SAMPIT/TABENGAN.COM – Miris, sebuah fenomena ada kuburan terlihat berada di tengah-tengah rimbunnya kebun sawit. Kuburan tersebut berada di kebun sawit milik PT Katingan Indah Utama (KIU), Desa Baampah, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang saat ini tengah bersengketa dengan masyarakat setempat yang mengaku sebagai ahli waris.

Adapun tanah yang diklaim seluas 53 hektare, diketahui milik seorang bernama Hj. Durasid, warga asli yang jauh sebelum kebun sawit itu ada menduduki tanah tersebut, yang kemudian diwariskan kepada anaknya bernama Maslia. Dalam kasus sengketa tanah ini, ahli waris pemilik tanah menuntut ganti rugi karena pihak perusahaan telah menanam sawit di atas tanah mereka.

Namun, permintaan dari ahli waris tersebut tidak digubris. Lantaran pihak perusahaan merasa telah memiliki hak atas tanah tersebut, sehingga permasalahan ini berujung dari penutupan lahan dan aktivitas oleh pihak ahli waris di lokasi tanah yang bersengketa.

Menurut Hartono, Damang Kepala Adat Kecamatan Mentaya Hulu, ada seluas 53 hektare tanah atas nama Hj Durasit, warga Desa Baampah, yang kini telah ditanami sawit oleh PT KIU. Saat ini ahli waris menuntut ganti rugi kepada pihak perusahaan.

Terkait dengan kuburan, dia menjelaskan, kuburan tersebut memang sudah ada jauh sebelum PT KIU menduduki tanah tersebut.

“Hingga saat ini, belum ada kejelasan terkait permasalahan ini. Berkali-kali sudah masuk dalam mediasi, namun belum juga ada penyelesaiannya,” kata Damang Hartono, pekan kemarin.

Damang menjelaskan, mereka memiliki bukti kepemilikan tanah adat seluas 53 hektare tersebut. Dia berharap perusahaan dapat mengganti rugi tanah kepada para ahli waris.

Sementara, kasus sengketa ini telah sampai di Mapolres Kotim untuk ditangani. Berdasarkan pantauan Tabengan di lapangan yang mengikuti jalannya permasalahan tersebut, Kabag Ops Polres Kotim AKP Zaldy Kurniawan beserta jajaran, pada Jumat (29/10) siang, tiba dilokasi lahan yang bersengketa menjumpai Damang dan para ahli waris sebagai penengah.

Di bawah arahan Kabag Ops, Damang dan para ahli waris sepakat untuk melakukan mediasi yang dilaksanakan di ruangan Kantor PT KIU. Keduanya diberikan kesempatan untuk memperlihatkan dan menjelaskan bukti kepemilikan hak atas tanah tersebut.

Hasilnya, kedua belah pihak tetap kukuh dan merasa sama-sama memiliki hak. Bahkan, pihak perusahaan berencana–menyampaikan di dalam mediasi tersebut–akan membawa permasalahan ini ke ranah hukum positif.

“Sudah 18 tahun perusahaan ini menyerobot di sini. Selama ini perjuangan kami menuntut hak tidak ada pernah selesai dan tidak membuahkan hasil. Tidak banyak kami minta, itu saja yang adil,” kata Damang Hartono.

Di sisi lain, ahli waris yang diwakili oleh sang suami H Dirham, mengatakan, pihaknya telah berjuang penuh menuntut apa yang menjadi hak mereka. Namun, selama belum ada itikad baik dari pihak perusahaan.

“Harapan kami, tolonglah ada keadilan. Tanah adat warisan dari orang tua kami telah digarap. Ganti rugi yang diharapkan tidak pernah dihiraukan,” kata Dirham.

Sementara itu, Kepala Desa Baampah Rahmad juga membenarkan bahwa itu adalah tanah adat milik Hj Durasid.

“Saya selaku Kades, tentunya membenarkan bahwah tanah tersebut memang milik mereka, karena didukung dengan seluruh keterangan saksi sebatas, dan beberapa kades sebelumnya juga menyatakan hal serupa, sementara tanah di wilayah setempat digarap PT KIU tanpa penyelesaian ganti rugi,” terangnya.

Menurut Rahmad, tidak ada alasan baginya selaku Kades Baampah untuk tidak membenarkan kepemilikan tanah mereka tersebut, karena sudah didukung dengan bukti yang jelas. c-prs

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *