WABAH  

Pemko Palangka Raya Batasi Distribusi Babi

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Untuk meredam penularan virus African Swine Fever (ASF) yang mulai mewabah dan menyerang hewan ternak babi di Palangka Raya, Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya melakukan langkah-langkah pencegahan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangka Raya Renson melalui Kepala Bidang Keswan Kesmavet dan PPHP Sumardi mengatakan, DPKP telah menerbitkan surat edaran dengan sejumlah poin penting sebagai bentuk kewaspadaan dan penanganan sebaran virus ASF di Kota Cantik.

Pertama, bagi para peternak babi yang menemukan ternaknya dalam keadaan sakit dan memiliki indikasi terpapar virus ASF (ternak babi mengalami demam tinggi, bercak merah di kulit dan telinga, nafsu makan turun, diare dan muntah darah) diharapkan segera melapor pada Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di BPP Rakumpit, Bukit Batu dan Kalampangan, atau ke DPKP pada bidang Keswan Kesmavet dan PPHP.

“Yang terpenting, jika ternak babi mati maka harus segera dikubur dan jika masih dalam kondisi sakit harus segera dipisah dengan ternak sehat. Kandangnya harus dikosongkan selama 2 bulan dan dilakukan biosecurity berupa penyemprotan disinfektan. Kami tegaskan, jangan menjual babi yang sakit dan daging babi yang sakit kepada masyarakat,” ujar Sumardi, Kamis (21/10).

Berdasarkan hasil uji laboratorium di Balai Veteriner Banjarbaru, jelas dia, virus ASF memiliki pola penularan yang sangat mudah. Dengan masa inkubasi virus antara 4 sampai 19 hari, ternak babi yang terjangkit ASF dipastikan mati 100 persen karena ketiadaan obat penyembuhnya.

Cara menularnya, papar Sumardi, dapat melalui kontak langsung antara ternak, mengalir melalui air, atau ternak memakan limbah dari ternak yang mati. Bahkan, virus yang menempel pada peralatan dan kendaraan ternak serta manusia, dapat menjadi perantara sebaran.

“Jadi Pemko sementara waktu memberlakukan pembatasan distribusi ternak babi. Tidak diperkenankan babi dari wilayah lain ke Kota Palangka Raya, dan dari Palangka Raya tak diperbolehkan dibawa keluar. Apalagi kita adalah pemasok tertinggi bibit ternak babi terbesar di Kalteng,” bebernya.

Disebutkan, jumlah ternak babi yang mati dikarenakan terpapar virus ASF hingga Kamis pagi, telah mencapai 300 ekor lebih. Kerugian sendiri ditafsirkannya lebih dari Rp600 juta.

“Kami akan terus memberikan sosialisasi dan edukasi kepada peternak, sebagai upaya pencegahan sebaran virus ASF ini. Karena belum ada obat ataupun vaksinnya, maka cara pencegahan sedini mungkin harus segera ditempuh,” tegasnya.

Harus Dikubur

Sementara itu, Kepala UPTD Puskeswan Kota Palangka Raya Drh Eko Hari Yuwono mengatakan, babi yang mati mendadak akibat terserang virus ASF harus dikubur.

“Harus dikubur, tidak boleh dibuang sembarangan supaya tidak menularkan ke peternakan babi lainnya,” ujarnya.

Hal tersebut disampaikan drh Eko menyikapi kejadian viral ada babi mati yang dibuang ke bak sampah hingga ke sungai di Kalteng. Ia menuturkan, ASF adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Meski begitu, ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi meskipun tidak direkomendasikan.

Terpisah, dari Kabupaten Kapuas dilaporkan, dalam 1 bulan terakhir, puluhan ternak babi warga Desa Sei Hanyo, Kecamatan Kapuas Hulu juga mati mendadak. Ciri-cirinya sakit tidak mau makan dan terdapat bintik-bintik merah disertai batuk dan mencret.

“Yang pasti setelah babi saya itu tidak mau makan dengan ciri badannya penuh bintik-bintik merah. Hanya dalam kurun 3 hari sudah kejang, dan ini tidak dialami oleh saya saja, tapi babi milik tetangga juga demikian,” kata Godfred, warga RT 02, Kamis.

Menurutnya, 2 ekor  hewan ternak babi miliknya mati secara mendadak, padahal ketika sakit sudah berupaya diberikan obat-obatan. Awalnya dikira hanya sakit biasa, namun setelah 3 hari, saat pagi babinya tersebut sudah kejang di dalam kandang.

Dari data yang dapat dikumpulkan, matinya ternak babi milik warga Desa Sei Hanyo ini juga hampir sama dialami oleh warga RT lainnya. Tercatat ada sekitar 38 ekor hewan ternak babi mereka mati dengan gejala yang sama. rgb/c-yul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.