Pasukan Merah Geruduk Polda Kalteng

  • Bagikan
TABENGAN/FERRY WAHYUDI MINTA MAAF- Andreas Junaedy Apang Bontang berjabat tangan dengan perwakilan TBBR usai meminta maaf, Kamis (21/10).

*Andreas Junaedy Minta Maaf

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Ratusan massa dari organisasi Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) menggeruduk depan Mapolda Kalimantan Tengah, Kamis (21/10). Massa yang akrab dikenal Pasukan Merah bermaksud menuntut permohonan maaf dari salah satu oknum anggota ormas yang diduga melakukan penghinaan di media sosial.

Memulai aksi sekitar pukul 07.30 WIB, ratusan massa menggunakan atribut kebesaran berwarna merah lengkap dengan mandau sebagai senjata adat. Prosesi ritual leluhur turut dilakukan.

Pada orasinya, massa meminta agar pelaku penghinaan, yakni Andreas Junaedy Apank Bontang bisa dihadapkan dengan mereka dan meminta maaf langsung. Permintaan itu harus dilakukan agar tidak menimbulkan konflik dan kemarahan dari massa.

Wakapolda Kalteng Brigjen Pol Ida Oetari Poernamasasi sempat mendatangi untuk menenangkan massa. Beberapa saat kemudian, beberapa perwakilan diminta melakukan mediasi langsung bersama Kapolda Irjen Pol Dedi Prasetyo dengan dihadapkan bersama Andreas Junaedy Apang Bontang yang telah diminta datang.

Sembari menunggu, massa yang telah beberapa jam di Jalan Tjilik Riwut km 1, lalu diminta bergeser dan masuk ke halaman Kantor Detasemen Gegana Satbrimob agar arus lalu lintas bisa dibuka.

Hingga pukul 13.00 WIB, atas permintaan seluruh massa, Andreas Juanedy Apang Bontang lalu meminta maaf secara langsung kepada massa dengan pendampingan penuh dari aparat kepolisian.

Wakil Ketua TBBR DPW Wilayah Kalteng, Kimang berharap ke depannya tidak ada lagi hal seperti ini. Ormas yang ada di Kalteng diminta bergandeng tangan bersama dan memperjuangkan apa yang ingin diperjuangkan untuk generasi muda ke depannya.

“Semoga tidak ada lagi pergesekan, saling sikut menyikut antara sesama masyarakat yang ada di Kalteng ini. TBBR pada intinya cinta damai, cinta kasih dan ingin kebersamaan itu selalu ada di Kalteng,” katanya usai aksi.

Terkait laporan pelanggaran UU ITE yang dilayangkan kepada Andreas Junaedi dicabut atau tidaknya, pihaknya masih akan merundingkannya kembali.

“Tuntutan kami hanya ingin permintaan maaf dari beliau (Andreas Junaedi) saja kepada seluruh masyarakat Dayak di sini. Kami belum dapat menyimpulkan permasalahan ini selesai atau tidak. Kami masih akan merundingkannya kembali bersama rekan-rekan,” ungkapnya. fwa 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *