909 Ternak Babi Mati Mendadak di Kalteng

  • Bagikan

*Paturrahman: Masih Aman Dikonsumsi

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Virus African Swine Fever (ASF) mulai mewabah di Kalimantan Tengah dan menyerang ternak babi. Data sementara yang berhasil dihimpun Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kalteng, sebanyak 909 ekor babi mati akibat virus ASF ini.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DTPHP Kalteng Paturrahman menjelaskan, virus ASF adalah virus yang berasal dari Afrika. Sejauh ini ada 11 kecamatan dari 3 kabupaten dan 1 kota yang melaporkan terjadinya penyebaran virus ASF pada ternak babi. Virus ini apabila sudah menyerang ternak, maka dipastikan 100 persen ternak tersebut akan mati.

Langkah yang dapat diambil, kata Paturrahman, melakukan isolasi terhadap kandang yang ternaknya terpapar virus ASF. Penyebabnya, pasokan ternak babi yang berasal dari luar Kalteng. Sekarang masih menunggu instruksi gubernur yang mewajibkan semua pasokan ternak babi untuk dapat dilakukan pemeriksaan sampel guna memastikan ternak bebas dari virus ASF.

“Virus ini tidak bersifat zoonosis atau tidak bisa menular ke manusia. Apabila ada ternak babi yang terpapar virus ASF, namun masih sempat dipotong, itu masih bisa dikonsumsi. Catatannya, daging babi yang akan dikonsumsi itu harus dimasak dengan sebaik mungkin atau benar-benar masak. Sementara itu, bagian isi perut babi harus dicuci dengan menggunakan deterjen ataupun disinfektan untuk mematikan virus tersebut,” kata Paturrahman, saat dikonfirmasi terkait virus ASF, Selasa (19/10), di Palangka Raya.

Ternak babi yang terpapar ASF, lanjut Paturrahman, disarankan jangan diperjualbelikan. Meskipun tidak menular ke manusia, namun untuk diperjualbelikan masih belum disarankan. Pemerintah berupaya semaksimal mungkin dalam menekan penyebaran virus ASF ini. Apabila memang diperlukan langkah yang ekstrem, bukan tidak mungkin dilakukan karantina terhadap daerah yang paling banyak terpapar.

Ke depan, ungkap Paturrahman, dibentuk satuan tugas (satgas) yang bertugas dalam menangani masalah virus ASF ini. Memastikan ternak babi bebas ASF hanya dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan sampel berupa polymerase chain reaction (PCR). Dari hasil PCR, setiap ternak yang terpapar akan segera dilakukan karantina untuk mencegah terjadinya penularan lebih luas.

Upaya lain, kata Paturrahman, apabila dalam satu peternakan ada terdapat 10 ekor, 9 di antaranya mati, namun 1 masih sehat dan tidak terpapar, darah dari ternak babi yang selamat ini akan dijadikan sampel untuk dijadikan vaksin bagi ternak lain.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau Slamet Untung Rianto melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Ibrahim membenarkan 2 kecamatan di Pulpis terserang virus ASF dan menyebabkan 590 ternak babi masyarakat mati mendadak.

“Virus ASF ini bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. Jadi, produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi,” ujar Ibrahim ketika dikonfirmasi, Senin (18/10). ded/c-mye

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *