SENDRATARI-Legenda Tamanggung Amai Rawang

  • Bagikan
SENDRATARI- Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Guntur Talajan melalui Kepala UPT Taman Budaya Kalteng Suraji memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan sendratari berjudul Legenda Amai Rawang secara daring, Rabu (6/10).TABENGAN/DEDY

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Cerita sejarah yang begitu banyak di Kalimantan Tengah, coba dituangkan para pelaku seni dalam sebuah sendratari pertunjukan. Legenda Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang, salah satunya. Sendratari ini ditampilkan demi menghibur masyarakat Kalteng khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Alkisah, warga Desa Upun Batu atau Tumbang Manange sedang berada di ladang karena sedang musim panen. Tiba-tiba datanglah segerombolan Kayau dari suku Ot menyerang desa tersebut. Di desa hanya tersisa kaum perempuan yang sedang mencuci pakaian di tepi Sungai Kahayan, termasuk Nyai Inai Rawang, istri dari Toendan yang bergelar Tamanggung Amai Rawang, ketika serangan terjadi.

Banyak korban jiwa atas serangan Kayau tersebut. Tamanggung Amai Rawang dan adiknya Tewek yang bergelar Singa Puai pulang dari ladang, terkejut melihat kondisi desa. Melihat keadaan desa yang demikian, kakak tertua Ucek, bersama dengan seluruh warga yang ada di ladang diminta untuk pulang ke desa, untuk melakukan pembalasan.

Namun malang, gerombolan Kayau usai menyerang kaum wanita di desa, juga menyerang warga yang berada di ladang. Akibatnya, warga yang berada di ladang juga tidak sedikit yang menjadi korban. Ada yang tewas di tempat, ada pula yang terluka parah. Sebelum pulang, Kayau berpesan bahwa dalam waktu 7 hari akan kembali lagi. Apabila ingin selamat, warga Desa Upun Batu wajib menyerahkan harta dan menjadi budak.

Tertancaplah sebuah Sampalak atau tanda bahwa daerah tersebut sudah diserang Kayau. Tamanggung Amai Rawang bersama dengan saudara dan sejumlah warga desa merenungkan bencana yang telah menimpa. Ingin balas dendam, apalah daya tidak memiliki kekuatan lagi. Akhirnya, munculah ide melakukan ritual Manajah Antang untuk meminta petunjuk dan pertolongan.

Petunjuk yang diberikan Antang Patahu, Tamanggung Amai Rawang harus mendirikan kuta atau benteng yang berada di atas Bukit Batu di tengah sungai, berseberangan dengan Desa Upun Batu. Hasil Manajah Antang juga diperoleh petunjuk atau tanda, yakni apabila musuh datang dari arah matahari terbenam, maka mereka harus lari karena akan kalah. Sebaliknya, bila musuh datang dari arah matahari terbit, mereka akan menang.

Tamanggung Amai Rawang tidak diperkenankan untuk mencabut mandau untuk menghalau musuh, cukup duduk di atas gong, menonton apa yang sedang terjadi. Atang Patahu-lah yang nantinya akan berperang bagi warga Desa Upun Batu.

Pada hari yang ditentukan, gerombolan Kayau kembali datang ke Desa Upun Batu, dan datang dari arah matahari terbit dengan wajah yang ganas.

Berdasarkan petunjuk Antang Patahu, apabila musuh datang dari arah matahari terbit maka mereka akan menang.

Sebelum dapat menyentuh Tamanggung Amai Rawang, satu per satu kelompok Kayau berjatuhan diserang Antang Patahu. Takluk di tangan Antang Patahu, akhirnya gerombolan Kayau  ini menyerah dan bersedia menjadi pengikut Tamanggung Amai Rawang. Sejak itulah, Desa Upun Batu menjadi aman dan damai kembali.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Guntur Talajan melalui Kepala UPT Taman Budaya Kalteng Suraji mengatakan, sendratari dengan judul Legenda Tamanggung Amai Rawang, salah satu legenda yang ada di Kalteng khususnya di Kabupaten Gunung Mas. Cerita ini diangkat sebagai bentuk kearifan lokal yang dimiliki Kalteng.

Dijelaskan, sendratari ini menjadi perwujudan betapa luar biasanya legenda yang dimiliki Kalteng. Semoga dapat memberikan suguhan yang menghibur semua pihak yang menyaksikan. Kondisi yang terjadi sekarang ini, membuat sendratari ditampilkan secara daring melalui YouTube Taman Budaya Kalteng.

“Ini adalah salah satu langkah yang ditempuh demi menjaga seni budaya di Kalteng, dan juga memberikan kesempatan bagi para pelaku seni untuk mengeluarkan segala kreasi seni yang tertahan selama hampir 2 tahun ini. Semoga pandemi cepat berlalu dan sendratari dapat disaksikan secara luring,” kata Guntur di Palangka Raya, Rabu (6/10).

Setidaknya termanfaatkannya ruang kreativitas sanggar/komunitas seni dan budaya di Kalteng dalam mengimplementasikan karya kreativitas. Tidak kalah pentingnya,  pementasan teater itu sebagai upaya mempertahankan warisan budaya tak benda,  meningkatkan kualitas kebudayaan dan sebagai bentuk promosi wisata budaya. ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *