Piring Malawen, dari Tiongkok ke Kalimantan

  • Bagikan
BELAJAR- Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Guntur Talajan menjelaskan tentang Piring Malawen pada kegiatan belajar bersama yang dilaksanakan UPT Museum Balanga Kalteng, Senin (27/9). ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)  Kalimantan Tengah (Kalteng) Guntur Talajan membawakan materi Piring Malawen pada kegiatan belajar bersama yang dilaksanakan UPT Museum Balanga Kalteng, Senin (27/9).

Piring Malawen menjadi salah satu warisan budaya yang cukup lekat di Kalteng, meskipun benda tersebut memiliki peradaban sendiri. Guntur menjelaskan, asal usul piring melawen merupakan bagian peradaban dari masyarakat Kalimantan dengan bangsa Tiongkok pada masa lalu.

Masyarakat Kalteng menyebut benda yang berasal dari Tiongkok tersebut sebagai Piring Malawen, padahal benda itu terbuat dari keramik yang sangat mahal dan bentuknya menyerupai piring.

“Asal usul Piring Malawen adalah barang dari bangsa Tiongkok yang dulunya berdagang datang ke tanah Kalimantan dengan sistem barter. Peradaban sendiri dari budaya tidak terpengaruh karena bangsa China Selatan datang hanya untuk misi perdagangan,” kata Guntur, saat dibincangi terkait dengan materi yang diberikan pada kegiatan belajar bersama, Jumat (1/10), di Palangka Raya.

Guntur menuturkan, beberapa barang yang bangsa Tiongkok bawa ke Pulau Kalimantan saat itu,  yaitu barang-barang pecah belah, perunggu dan emas. Di antaranya seperti piring, guci, gong, kenong, gelang perunggu (gelang balian) dan lain-lain yang mereka barterkan dengan hasil hutan yang dijual oleh orang Dayak di Kalimantan.

Sampai saat ini beberapa peninggalan bangsa Tionghoa yang masih disimpan oleh sebagian suku Dayak di Kalimantan seperti Piring Malawen, balanga (guci) dan peralatan keramik lainnya. Itulah sedikit inti dari asal usul Piring Malawen yang ada di Kalimantan. Penting para pelajar yang merupakan generasi penerus, untuk memiliki wawasan dan pengetahuan akan benda-benda yang bernilai kearifan lokal.

Tujuan akhirnya adalah memiliki jati diri untuk melestarikan kebudayaan lokal,  khususnya kearifan lokal suku Dayak. Piring Malawen hanyalah satu dari sekian banyak barang yang dimiliki suku Dayak pada zaman dahulu. Barang ini tidak hanya sebuah barang semata, tapi ada kegunaan atau manfaat yang melekat dengan suku Dayak kala itu.

Chihi, siswa SMA 4 Palangka Raya mengatakan, kegiatan belajar bersama yang dilaksanakan memberikan pemahaman tentang beberapa hal yang memang belum diketahui. Kegiatan belajar bersama ini banyak wawasan yang diperoleh dari sumber yang mengetahui sejarahnya secara langsung. ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *