BELAJAR BERSAMA – Sidik Usop: Pelajar Lupa Apa itu Desa

  • Bagikan
BUDAYA - Dosen UPR Sidik Rahman Usop saat menjadi narasumber Kegiatan Belajar Bersama di UPT Museum Balanga Kalteng, Kamis (30/9).ISTIMEWA

Dosen Universitas Palangka Raya (UPR) Sidik Rahman Usop, menjadi narasumber dalam kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah (Disbudpar Kalteng), melalui UPT Museum Balanga Kalteng. Materi yang diangkat dalam Kegiatan Belajar Bersama terkait dengan budaya yang ada di desa, di antaranya tiwah dan sapundu.

BUDAYA – Dosen UPR Sidik Rahman Usop saat menjadi narasumber Kegiatan Belajar Bersama di UPT Museum Balanga Kalteng, Kamis (30/9).ISTIMEWA

Sidik Usop mengatakan, sekarang ini para generasi muda, khususnya pelajar, sudah lupa apa itu desa, dan seperti apa suasana di desa. Pemerintah harus memberikan perhatian serius terhadap pelestarian budaya di kalangan pelajar. Ke depan agenda wisata ke desa-desa yang ada di Kalteng ini harus ada, khususnya desa yang memiliki peninggalan sejarah dan budaya.

“Pelajar sudah lupa bagaimana itu desa. Wisata ke desa-desa yang memiliki peninggalan sejarah, dan budaya wajib untuk diadakan oleh pemerintah. Pelajar tidak hanya mengetahui benda-benda tersebut ada di Museum Balanga, tapi juga dapat melihat secara langsung keberadaan benda-benda seperti sapundu di desa,” kata Sidik Usop, saat menyampaikan materi di hadapan peserta didik dari sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Palangka Raya di UPT Museum Balanga Kalteng, Kamis (30/9).

Wajib pula mendapatkan pengetahuan, tegas Sidik Usop, apa yang menyebabkan barang-barang budaya seperti sapundu atau yang lainnya ini mengalami penurunan jumlah. Jumlah barang-barang budaya di Kalteng yang dulunya sangat banyak, sekarang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini menjadi tantangan bagi para pelajar, peninggalan sejarah tidak sebatas benda mati, tapi juga benda hidup.

Contoh lain, jelas Sidik Usop, ritual keagamaan tiwah, ada yang dinamakan tetek janet. Ini merupakan jumlah orang yang menyumbang dalam pelaksanaan tiwah. Semakin banyak yang menyumbang, tentu saja biaya tiwah akan semakin ringan. Tetek janet ini memiliki sifat timbal balik. Saat menyumbang ketika ada yang melaksanakan tiwah, maka ketika giliran melaksanakan tiwah akan mendapatkan bantuan pula.

Dikatakan Sidik Usop, tiwah menjadi salah satu contoh, yang apabila dilaksanakan tidak hanya sebuah ritual keagamaan semata, tapi juga menjadi pelestarian budaya. Di dalamnya terdapat berbagai jenis kerajinan yang luar biasa. Seni pahat, seni ukir, seni patung, seni lukis, dan juga seni tari. Ada banyak perkembangan yang terjadi dalam kegiatan tiwah itu sendiri.

Pesan sosialnya, ungkap Sidik Usop, yakni berbagi. Acara tiwah mendapatkan bantuan dari banyak pihak, demikian pula nantinya ketika melaksanakan akan mendapatkan dukungan atau bantuan pula dari keluarga yang sudah diberikan bantuan. Di sini kita belajar, budaya yang ada di Kalteng memiliki begitu banyak hal yang dapat dipelajari. ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *