Banjir Meninggi, Warga Balakang PDAM Palangka Raya Mengungsi

  • Bagikan
MENGUNGSI - Warga Kelurahan Langkai di Jalan S Parman Gang Simponi, mengungsi di Posko Pengungsian Banjir SDN 1 Langkai pada Senin (20/9) malam. 

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Meningkatnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir, baik itu pada kawasan hulu Sungai Kahayan maupun di Kota Palangka Raya sendiri, menyebabkan debit air di kota setempat semakin meninggi. Hingga hari Senin (20/9) petang, pemukiman masyarakat di daerah aliran sungai (DAS) Kahayan khususnya yang berada di Kelurahan Langkai di belakang PDAM dan PLN Kota Palangka Raya, ketinggian air mencapai 70 cm atau setinggi paha orang dewasa.

Camat Pahandut, Berlianto mengatakan jika pihaknya segera melakukan evakuasi terhadap warga Jalan S Parman Gang Simponi Kelurahan Langkai, yang saat ini rumahnya telah terendam air. Mereka dikatakannya, dievakuasi ke Posko Pengungsian banjir di SDN 1 Langkai.

“Air dalam beberapa hari ini mulai meninggi. Kurang lebih 30 orang penduduk di Gang Simponi yang termasuk golongan lansia, anak-anak, dan kelompok rentan segera kami evakuasi karena air semakin tinggi,” ujar Berlianto, Senin (20/9) malam.

Untuk kapasitas Posko Pengungsian ini, setidaknya dapat menampung hingga 50 orang. Untuk hari pertama, Posko Pengungsian yang menggunakan gedung sekolah dasar ini menggunakan 3 ruang kelas. Di dalamnya ujar Berlianto, telah disediakan 18 buah Velbed, ambal, selimut, karpet, hingga fasilitas untuk mencuci tangan. Selain itu, WC portabel dan dapur umum juga telah didirikan bagi para pengungsi.

“Untuk fasilitas bagi para pengungsi, sudah kami siapkan dengan baik agar mereka merasa nyaman. Apabila terjadi penambahan pengungsi maka ruang kelas akan kembali dibuka lebih banyak untuk menampung mereka. Back up bantuan dari BPBD juga telah disiapkan,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga kata Berlianto lagi turut mengevakuasi salah satu warga lanjut usia (Lansia) yang membutuhkan pertolongan lanjutan. Suciati yang berusia 76 tahun, segera dievakuasi menggunakan tandu darurat karena tidak bisa lagi berjalan.

“Karena kondisi beliau membutuhkan pertolongan yang intensif, malam ini juga kami mengantarkannya ke RSUD Kota Palangka Raya di Kalampangan,” sebutnya.

“Dan untuk tenaga kesehatan, Kecamatan Pahandut juga telah bekerjasama dengan pihak puskesmas setempat dan Stikes Eka Harap. Dimana nantinya akan ada 4 orang mahasiswa sebagai tenaga kesehatan akan bergantian membantu kami memeriksakan kesehatan para pengungsi,” tambah Berlianto lagi.

Mulyana, salah seorang pengungsi menuturkan jika air luapan dari Sungai Kahayan telah merendam rumahnya. Kondisi air yang setinggi lutut, telah menyulitkan ia bersama keluarganya untuk beraktivitas. Bahkan untuk tidur, sudah tidak bisa lagi karena air telah merendam tempat tidur.

Lebih lanjut dijelaskan, banjir yang terjadi di wilayahnya telah berlangsung sejak sepekan terakhir. Namun, debit air mulai meningkat drastis dalam empat hari terakhir.

“Seminggu terakhir itu masih aman saja. Tapi empat hari terakhir ini yang mulai parah. Padahal, tahun lalu saja banjir itu hanya sebentar atau hanya lewat saja. Ya kami harap ada perhatian dari PemerintahbKota untuk membantu kami yang terdampak banjir ini,” tukasnya.

Selain itu dirinya memutuskan untuk bertahan di lokasi pengungsian, hingga kondisi air di rumahnya mulai surut.

“Kalau air di rumah saya mulai surut, baru saya kembali ke rumah,” pungkasnya. rgb

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *