Sebulan 2 Kali Banjir di Arut Bawah

  • Bagikan
TABENGAN/DANIEL SUSANTO/YULIANUS BANJIR- Kondisi banjir di Jalan Arut Bawah, Kota Palangka Raya, Senin (20/9). Tampak kondisi banjir yang merendam perumahan warga di Jl Anoi dan Kawasan Pasar Kahayan, Palangka Raya.

*Ternak Babi Banyak yang Mati

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Meskipun cuaca di Kota Palangka Raya panas, warga yang tinggal di Jalan Arut Bawah, Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya tetap mengalami musibah banjir. Tingginya debit air luapan dari DAS Kahayan, hingga Senin (20/9), tak kunjung surut. Bahkan, makin meluas dan berarus deras.

Agustinus, Ketua RW III Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya, mengatakan, sedikitnya ada 79 Kepala Keluarga (KK) atau 150 warga yang tinggal di Jalan Arut Bawah. Mereka semua terdampak banjir tahun ini.

“Kerugian kalau untuk fasilitas umum, yang pasti jalan. Karena ada timbunan di depan tergerus oleh air. Karena timbunan bukan dari material yang keras, tapi dari kayu. Kemudian titian ini kalau kena air akan rusak. Masalah kesehatan oleh karena kaki terus terendam air juga dapat menyebabkan penyakit kulit,” ungkapnya saat dibincangi, Senin.

Menurut Agustinus, selama ini bantuan dari Pemerintah Kota Palangka Raya belum pernah didapatnya. Sedangkan bantuan yang didapat berasal dari beberapa ormas yang ada di Palangka Raya. Dia berharap pemerintah dapat memerhatikan warganya yang terkena dampak.

“Yang pasti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti beras dan lain-lain. Juga, semoga air tidak naik lagi,” tuturnya.

Esni, seorang warga yang terdampak, juga berharap perhatian dari pemerintah. Karena dalam bulan ini sudah 2 kali wilayah Jalan Arut Bawah mengalami banjir.

“Bantuan dari pihak gereja, dari Komisi Pelayanan Perempuan GKE Sion dan dari Batamad,” beber Esni.

Menurutnya, banjir yang terjadi karena penggundulan hutan yang semakin parah. Daerah penduduk di wilayah Jalan Arut adalah rawa, sehingga ketika dihulu terjadi hujan yang cukup lebat, tidak ada lagi tempat berakhirnya air.
Ibu rumah tangga yang sudah 38 tahun tinggal di Jalan Arut itu juga menyebutkan, dulu memang pernah juga banjir, tapi air cepat surut. Jadi untuk daerah yang sudah gundul hutannya, agar ditanam lagi.

Warga yang lain juga mengatakan, banjir bukan saja membawa kerugian harta benda, tapi ternak warga pun menjadi terserang penyakit dan mati. Setidaknya hingga berita ini diturunkan sudah ada 7 ekor babi ternak yang mati.

Harapan mereka, dinas terkait dalam hal ini Dinas Peternakan dapat menurunkan dokter hewan. Untuk diketahui, di daerah Jalan Arut ada sekitar 5-6 peternak babi. dsn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *