Bayi Hydrosepalus Butuh Bantuan

  • Bagikan
BUTUH BANTUAN - Gatri Eka bersama Deka dikediamannya Jalan Tenggiri (Jalan Komando I) Palangka Raya.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Ujian berat harus dilalui pasangan Gatri Eka (30) dan Sri Wahyuni (25) atas kondisi kehidupan yang mereka alami. Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, keduanya dihadapkan pada ujian berat, dimana buah hati mereka yang berusia 1,9 tahun menderita hydrosepalus.

Sebelumnya, Deka (1,9) lahir dengan kondisi normal, tanpa gejala ataupun kendala. Namun, 4 hari paska kelahiran terjadi perubahan pada bagian kepala. Pembengkakan yang terjadi pada bagian kepala, hasil diagnosa RS Doris Sylvanus Palangka Raya dikenal dengan nama hydrosepalus. Usia Deka yang saat itu baru beberapa hari, membuat penanganan kesehatan berupa operasi tdak bisa dilakukan.

Demikian, dijelaskan Gatri Eka, perihal kondisi awal yang dihadapi buah hatinya Deka. Dikarenkan masih sangat kecil, sehingga belum bisa dilakukan penanganan, maka pihak RS Doris Sylvanus menyerankan agar dapat kembali pada saat usia Deka sudah 3 bulan. Usia 3 bulan memungkinkan dilakukan penanganan, karena organ tubuh sudah terbentuk dengan lebih baik.

“Kondisi yang kami hadapi, membuat Deka tidak bisa kami bawa untuk kontrol pada usia 3 bulan. Kontrol baru bisa kami bawa saat usia Deka sudah 6 bulan. Namun, diusai itu penjelasan yang diberikan bahwa Deka tidak bisa dilakukan operasi, karena cairan dalam kepala sudah terlampau banyak,” kata Gatri Eka, saat menyampaikan kondisi Deka, Minggu (19/9) di Palangka Raya.

Gatri melanjutkan, apabila memang tetap dipaksakan untuk dilakukan operasi, cukup berisiko terjadinya infeksi nantinya. Apabila memang demikian, maka diputuskan Deka dirawat di rumah saja. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari perawatan medis, obat kampung, bahkan ada tim doa yang turut memberikan dukungan, atas semua itu sangat diapresiasi.

Kondisi Deka, terang Gatri, memang memerlukan perawatan dan penanganan kesehatan. Ada kunjungan yang dilakukan Puskesmas Kayon, namun hanya sebatas kunjungan karena keterbatasan yang dimiliki puskesmas. Risiko yang cukup besar apabila dilakukan operasi, membuat pilihan yang diambil adalah merawat di rumah, dan pasrah dengan kondisi yang dihadapi oleh Deka.

Sekarang ini, ungkap Gatri, Deka memang keterbatasan untuk mengkonsumsi susu. Penglihatan juga tidak jelas, namun indra peraba masih merespon dengan baik. Hal ini terbukti ketika disentuh ataupun digendong. Tidak jarang, Deka juga mengalami demam dibarengi dengan kejang. Setelah diberikan penurun panas, kondisi Deka kembali normal.

Ada sejumlah bantuan yang diberikan oleh relawan, maupun pemerintah melalui Dinas Sosial Palangka Raya. Itu sebuah dukungan besar yang diterima atas kondisi yang dihadapi.

Terpisah, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Palangka Raya Kory Permata, menyampaikan, Deka sudah mendapatkan sejumlah program yang diberikan. Akses terkait kependudukan yakni pindah domisili. Mendapatkan akses untuk program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Penerima Bantuan Iuran (PBI).

“Juga mendapatkan pelayanan dasar dalam kegiatan atensi anak yang memerlukan penanganan khusus. Dan, mengakses pelayanan kesehatan bagi Deka. Kegiatan pelayanan kesehatan terus dilakukan sejak April, sampai sekarang terus dipantau,” kata Kory.

Terakhir, ungkap Kory, bagi orang tua dibantu oleh Dinas Sosial Palangka Raya masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial, kemudian menjadi penerima bantuan sosial tunai dari APBN yang disalurkan oleh Kemensos RI sejak Maret 2021.ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *