Divonis 14 Tahun, Terdakwa Persetubuhan: Saya Tidak Melakukannya!

  • Bagikan
Sidang kasus persetubuhan digelar di Pengadilan Negeri Palangka Raya, Selasa (14/9/2021). ANDRE

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Seorang buruh bangunan berinisial AL mendapat vonis penjara selama 14 tahun dan denda Rp60 juta subsider kurungan selama 2 bulan pada sidang Pengadilan Negeri Palangka Raya, Selasa (14/9/2021). Dia menjadi terdakwa persetubuhan terhadap seorang anak perempuan berusia 5 tahun.

“Saya tidak melakukannya!” ucap AL dengan mata berkaca-kaca.  Penasihat Hukum (PH) Terdakwa menyatakan pikir-pikir untuk mengajukan banding setelah berkoordinasi dengan terdakwa. Demikian pula Jaksa Penuntut Umum (JPU) Een H Baboe menyatakan masih pikir-pikir juga.

Usai persidangan, Suriansyah Halim selaku Ketua Tim PH didampingi Candra Putra menyatakan kliennya sejak awal hingga akhir tidak pernah mengakui persetubuhan bawah umur.

“Kami yakin klien kami tidak bersalah,” kata Halim. Alasannya robek pada alat kelamin korban disebut sebagai luka lama, sedangkan AL dan ibu korban baru menjalin hubungan asmara tidak lama sebelum muncul tuduhan pencabulan dari ayah korban.

Dia menduga ada unsur kecemburuan dari ayah korban karena AL berpacaran dengan ibu korban dan hendak menikahinya.

“Pada tahun 2019, korban tiga kali terkena penyakit kelamin. Terdakwa baru mengenal korban dan ibunya pada tahun 2020. Seharusnya penyidik menelusuri dari siapa korban mendapat penyakit tersebut,” kata Halim.
Dalam versi dakwaan JPU, perkara bermula ketika AL mengajak korban dan ibunya membeli mainan pada bulan November 2020. Usai berbelanja, ibu korban memasak di dapur. Saat itulah AL menyetubuhi korban. Kejadian terungkap ketika korban dibawa pergi oleh ayahnya dan kemudian dimandikan pada 6 Desember 2020. Korban mengeluh sakit pada bagian kemaluannya dan menyebut AL telah memasukan alat kelaminnya. Ayah korban kemudian melaporkan kejadian tersebut pada pihak kepolisian.
Hasil visum menyimpulkan adanya robekan lama pada selaput dara, tidak ditemukan luka lecet sekitar bibir kemaluan luar dan diduga adanya persetubuhan anak di bawah umur.

Dalam pemeriksaan psikologi, korban menyebut pelaku persetubuhan terhadapnya adalah AL dan ada indikasi traumatis dan perubahan emosi reaksi emosi negative yang dominan oleh korban kepada pelaku pascakejadian.
Dalam persidangan, Hakim Ketua Majelis Etri Widayati didampingi dua Hakim Anggota menyatakan AL terbukti memenuhi Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) No 17/2016 tentang penetapan Perppu No 01/2016 tentang tentang Perubahan Atas UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak tentang Perubahan Atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. dre

 

Penulis: AndreEditor: Haris Lesmana
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *