Harga Minyak Goreng dan Ayam Ras Naik

  • Bagikan
ILUSTRASI/AYAM DAN BANJIR

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Banjir yang melanda sejumlah daerah di Kalteng, belum terlalu berdampak bagi beberapa harga bahan pokok di provinsi tersebut. Hanya sejumlah komoditas saja yang mengalami kenaikan tidak terlalu signifikan, yang mana sisanya masih stabil bahkan mengalami penurunan harga.

Terkait itu, Pj Sekda Kalteng H Nuryakin ketika dihubungi via whatsaap seluler menyampaikan, saat ini perkembangan harga 14 komoditas bahan pangan di Palangka Raya, Sampit dan rata-rata Kalteng periode 6-12 September 2021 yang mengalami kenaikan, seperti minyak goreng (migor) sebesar 0,63 persen dan daging ayam ras 0,84 persen.

“Untuk rata-rata Kalteng yang naik migor dan daging ayam ras dan komoditas lain mengalami penurunan seperti beras medium 0,41 persen, bawang merah 0,92 persen, bawang putih bonggol 0,27 persen, telur ayam ras 0,60 persen, cabai rawit merah 6,90 persen, cabai merah keriting 3,05 persen dan gula pasir 0,37 persen,” ujarnya kepada Tabengan, Senin (13/9).

Lalu untuk komoditas lainnya mengalami stabil antara 0,00 persen hingga 0,85 persen. Dirinya menambahkan untuk Kota Palangka Raya sendiri, komoditas yang mengalami kenaikan harga tidak ada. Lalu yang mengalami penurunan harga seperti beras medium 5,13 persen, daging ayam ras 1,45 persen, telur ayam ras 1,79 persen dan gula pasir 2,10 persen. Sisanya untuk komoditas lainnya masih stabil.

Dirinya juga menjelaskan untuk Sampit juga mengalami kenaikan harga pada daging ayam ras sebesar 11,17 persen. Sementara untuk komoditas lainnya turun harga yaitu cabai merah keriting 13,73 persen, serta komoditas lain yang masih stabil antara 0,00 persen hingga 40,94 persen.

“Komoditas yang melebihi batas toleransi adalah di Kota Palangka Raya untuk beras medium 0,13 persen, Sampit daging ayam ras 1,17 persen dan cabai rawit merah 14,06 persen,” ujarnya. Terkait itu dirinya melalui jajaran dinas terkait, akan terus melakukan pengawasan terkait harga di lapangan, khususnya di wilayah yang memang terdampak banjir.

Barut dan Mura Terdampak Banjir

Sementara itu terkait banjir yang terjadi di 12 kabupaten/kota di Kalteng, berdasarkan pemantauan debit air mengalami penurunan. Namun perlu diwaspadai, berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG per 12- 14 September 2021, potensi hujan lebat hampir merata di seluruh kabupaten/kota. Hal tersebut berpotensi terhadap akumulasi air di setiap aliran sungai.

Baru-baru ini pihaknya melakukan cek logistik untuk kesiapan bantuan bagi masyarakat terdampak banjir di DAS Barito. “Berdasarkan data yang kami terima, Kabupaten Barito Utara, banjir terjadi mulai tanggal 4 September 2021 sampai pada tanggal 11 September 2021, yang terdampak sebanyak 7 Kecamatan yaitu Teweh Baru, Lahei, Teweh Selatan, Montalat, Lahei Barat, Teweh Tengah, dan Gunung Timang. Kalau berdasarkan pemetaan pada tingkat desa/kelurahan, maka banjir terjadi pada 16 desa/kelurahan. Jumlah masyarakat yang terdampak dilaporkan sebanyak 4.082 KK, sekitar 12.017 jiwa, dan masih akan bertambah karena masih ada 2 desa yang masih dalam pendataan,” ucap Pj. Sekda.

Dirinya menambahkan, kecamatan yang terdampak cukup luas yaitu Kecamatan Lahei sebanyak 6 desa/kelurahan dengan masyarakat terdampak 1.257 KK atau sekitar 5.126 jiwa. Kemudian Kelurahan Melayu, Kecamatan Teweh Tengah, yang berada di Kota Muara Teweh, sebanyak 1.559 KK, sekitar 6.691 jiwa.drn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *