Pengurus Ponpes Setubuhi 2 Wanita Hamil

  • Bagikan
INTEROGASI - Kapolres Kobar AKBP Devy Firmansyah saat mengintrogasi pelaku pencabulan di pondok pesantren Nurul Hikmah Desa Pandu Sanjaya, Kecamatan Pangkalan Lada. ISTIMEWA
  • Modus Ruqyah untuk Selesaikan Masalah Rumah Tangga

PANGKALAN BUN/TABENGAN.COM – Salah seorang pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hikmah di Desa Pandu Sanjaya, Kecamatan Pangkalan Lada, berinisial AK (52), harus meringkuk di sel tahanan Polres Kotawaringin Barat (Kobar). AK diduga tindak pidana pencabulan terhadap 2 orang wanita, dengan modus Rukiyah untuk menyelesaikan masalah rumah tangga kedua korban tersebut.

Kapolres Kobar AKBP Devy Firmansyah didampingi Kasat Reskrim AKP Rendra Aditia Dhani menjelaskan, tersangka AK berhasil diamankan berdasarkan laporan dari kedua korban pada 9 September 2021. Kedua korban  merupakan ibu rumah tangga dan sedang mengalami permasalahan di dalam rumah tangganya.

“Korban pertama berinisial T, kejadiannya pada Februari 2021 lalu. Saat itu korban sekitar pukul 20.30 WIB, datang ke Pondok Pesantren Nurul hikmah ditemani oleh temannya, berkonsultasi dengan tersangka masalah suami korban yang pergi dan belum kembali. Kemudian tersangka menyuruh saksi atau teman korban untuk keluar membeli air mineral,” kata Kapolres Kobar AKBP Devy Firmansyah saat menyampaikan pers rilis tentang pengungkapan kasus tindak pidana oleh Reskrim Polres Kobar, Senin (13/9).

Lanjut Kapolres, setelah teman korban keluar untuk membeli air mineral, kemudian korban diajak masuk ke dalam kamar. Tersangka pun menanyakan kepada korban, apakah mau dirukhiyah dengan cara disetubuhi atau tidak, namun saat itu korban pun menolaknya.

Karena korban menolak, tersangka mengatakan jika tidak mau melakukan rukhiyah dengan cara disetubuhi, maka hidupnya akan lebih sengsara dari yang ada saat ini. Tersangka juga mengatakan bahwa bayi yang ada dalam kandungan korban yang pada saat itu tengah hamil 4 bulan, akan meninggal dalam kandungnya.

“Karena merasa takut dan terpaksa, akhirnya bersedia mengikuti rukhiyah dengan cara disetubuhi oleh tersangka. Akhirnya tersangka  melakukan hubungan badan layaknya suami istri dengan korban, dimana korban tengah hamil 4 bulan,” ujar Kapolres.

Kemudian korban kedua berinisial LF, kejadian terjadi pada Minggu (5/9) sekitar pukul 23.55 WIB. Saat itu korban datang ke pondok pesantren yang sama, dan korban di temani oleh suami korban. Kedatangan keduanya untuk konsultasi juga masalah rumah tangga korban kepada tersangka.

“Setelah mendengarkan keluhan dari korban, kemudian tersangka pun meminta suami korban untuk membeli air di daerah perbatasan antara wilayah SP 4 dan SP 2. Saat itu korban di ajak ke kamar, tersangka pun menyampaikan jika rumah tangganya kembali membaik harus melakukan kumpul siri, dengan cara melakukan hubungan badan. Korban pun menolak, tapi tersangka mengatakan jika menolak akan terjadi musibah yang besar, bahkan bayi dalam kandungan pun akan jadi korban. Akhirnya korban yang tengah hamil 8 bulan, mengikuti akal bulus tersangka,” ujar Kapolres Kobar.

“Tersangka telah kami amankan dan dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 289 KUH Pidana. Kami akan mendalami kasus ini, barangkali ada korban yang lainnya. Untuk pondok pesantren Nurul Hikmah belum memilki ijin, hal ini kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah daerah, termasuk kami minta juga kepada masyarakat yang pernah mengalami kejadian yang serupa seperti kedua korban, agar segera melapor, ” tegas Devy Firmansyah.  c-uli

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *