Korban Penganiayaan Oknum Satpam PT KUI Tuntut Keadilan

  • Bagikan
MINTA KEADILAN  - Orang tua dan kakak korban penganiayaan Oby Sanjaya menunjukkan foto bekas penganiayaan yang dilakukan oknum satpam PT KUI. inset Ketum Gerdayak Kalteng Yansen Binti

Gerdayak: Penegak Hukum Harus Profesional

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Merasa belum mendapat respon positif terhadap perkembangan kasus penganiayaan yang dilakukan puluhan oknum satpam PT Katingan Indah Utama (KUI), pihak keluarga Oby Sanjaya menuntut keadilan hingga ke Palangka Raya.

Orangtua dan kakak dari korban Oby Sanjaya lantas mendatangi Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak) Kalteng untuk mencari solusi terbaik atas kasus yang sudah berlarut hingga tanpa penyelesaian selama satu bulan terakhir.

Edwin Saprin (65), orang tua Oby Sanjaya, mengaku sejak dilaporkan pada 9 Agustus 2021 lalu di Polsek Mentaya Hulu dan Polres Kotawaringin Timur, belum ada hasil positif yang didapatkan. Terduga pelaku masih terus berkeliaran dan bekerja di PT KIU.

“Kami sudah berkali-kali menanyakan ke pihak Polres Kotim, namun jawabannya selalu masih dalam pengembangan. Belum ada tindak lanjut. Untuk itu kita datang ke Gerdayak untuk mencari solusi terbaik,” katanya, Senin (13/9/2021) siang.

Senada, Nor Eklin Hidayat (37), kakak korban, menerangkan jika peristiwa penganiayaan tersebut berada di Desa Santilik, kecamatan Mentaya Hulu, Kotawaringin Timur. Waktu itu ia kaget menemukan adiknya sudah bersimbah darah dengan tangan terborgol di tangan puluhan oknum satpam PT KUI.

Waktu ditemukan, adiknya sudah tidak sadarkan diri. Mendapati itu, ia segera merebut korban dari tangan para pelaku dan menyelamatkannya dengan membawa ke rumah.

“Adik saya dihadang puluhan oknum satpam yang membawa senjata tajam jenis Mandau. Tidak tahu masalahnya apa,” ujarnya.

Menindaklanjuti perkara tersebut, Ketua Umum Gerdayak Kalteng, Yansen Binti, menegaskan apapun perbuatannya apalagi terhadap masyarakat adat Dayak, tentunya sangat keberatan. Hal ini harus ditindaklanjuti serius sebagaimana hukum yang berlaku.

“Hal ini harus ditangani profesional oleh aparat penegak hukum jika tidak ingin berdampak luas. Terlebih darah sudah keluar, jangan sampai menyebabkan gangguan kamtibmas yang lain karena simpati dari masyarakat Dayak yang luas,” tuturnya.

Yansen pun turut meminta DAD Kalteng untuk cepat bergerak mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. “DAD selaku pemangku adat di Kalteng dapat segera turun mengambil perannya di bidang hukum adat,” tegasnya. fwa

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *