SEGELINTIR YANG MENIKMATI TAPI SENGSARA SEMUANYA

  • Bagikan

Oleh: Teguh Leweh Abdul Gani

            Jangan Menangis: “Karena ia kini telah tiada, terimalah dengan lapang dada, jangan saling menyalahkan, mari kita rajin menanam pohon bukan rajin menebang, agar kita dan generasi selanjutnya tidak basah kuyup”.

            Bila merasakan banjir dikota kecil tempat kelahiran ku rasanya kata yang paling tepat diucapkan adalah “Rasa bersyukur”, dalam arti iklas menerima kebanjiran ini. Karena dengan iklas menerima berarti kita generasi sekarang ini menyadari fungsi dari tanaman, hutan, belukar, rimba belantara, kebun dan jenis tanaman lainnya yang menjadikan kota kecilku hijau kembali.

            Jangan ada istilah terlambat, karena itu bukan orang yang iklas, mari menanam pohon, mulai dari diri sendiri. Rajinlah demi keselamatan anak cucu kita selanjutnya. Dengan kisah bahwa: “Kita ikhlas kemudian kita menanam pohon”. Walau lestari alamku, hanyalah tinggal bait-bait dalam salah satu lirik lagu.

            Mari berbuat, jangan Cuma teori atau saling menyalahkan, karena itu hal kebodohan yang ditertawakan orang seluruh dunia. Tidak asik kalau Cuma menyalahkan sementara banjir terus memburu dimana lagi yang akan dibanjiri. Ibarat kata Sebab nila setitik rusak susu sebelanga, atau bisa juga: Segelintir yang menikmati tapi sengsara semuanya.

            Jangan jadi generasi telapak tangan diatas, menadahkan tangan meminta-minta  dana kepada Penguasa untuk memberikan dana bantuan banjir, itu memang kewajiban dan kebijakan mereka, ini kesalahan kita semua karena menyukai hutan kita jadi botak.

            Kepada Pihak yang berkompeten: mari bangkitkan lagi semangat kami generasi milenial ini untuk rajin menanam pohon dan juga buat pertemuan yang membahas fungsi dari pohon yang tertancap tertanam. Bentuk generasi ini jadi orang yang mencintai tanaman. Jangan ajari kami jadi generasi “yang senang menjual Hutan”.

            Kalau sudah begini kita nikmati saja tapi terus berbuat untuk lebih baik, berhentilah mengeluh, elus dada kita kemudian ucapkan: “ ini salahku karena tidak peduli dan tidak pernah menanam pohon”. Aku selama ini cuma asik maing hape, telpon sana sini mengalahkan kesibukan seorang ahli politik dan ahli pidato: cuap-cuap tak ada gunanya.

            Banjir kini sudah menenggelamkan seisi rumah, kulkas, lemari pakaian, ember mengapung menari diatas air.  Tahan air mata untuk menetes karena barang –barang itu dibeli pakai uang, inikah hadian atas kemalasan dan ketidak pedulian kita selama ini?. “mari kita resapi bersama, sejauh inikah salah kita”.

            Mengetuk pintu hati sehingga terbuka mata lebar-lebar kemudian menjadilah orang yang bijak dalam bersikap.

            Paru paru dunia kini telah tiada, bisa dan rasa oftimis harus ada, agar paru paru dunia itu ada kembali, kita  pahami makna dan fungsi kita sebagai manusia yang memang dari sananya disuruh memelihara alam bukan merusak porandakan alam.  Ini sungguh menggugah perasaan ku bahwa selama ini aku adalah manusia paling egois sedunia, karena aku pernah melihat dan menyaksikan ditayangan  televisi dan media lainnya tentang kerusakan hutan yang ada dinegeri kita tercinta ini. Banyak bahkan teramat banyat yang telah dirusak.

            Program penghijauan ini harus cepat diselenggarakan, ayo mulai dari diri kita sendiri, semoga Pemerintah Daerah Kotim cepat mengadakan dan menggalakkan kembali, karena dulu sempat ada. Semoga paru-paru dunia ini hidup kembali, sehingga kita tidak basah kuyup, menjadi generasi menggigil kedinginan setiap hari, binggung mau bertempat tinggal dimana karena dimana mana air meluap, kita kebanjiran, bukan menjadi korban kebanjiran, tapi jadi korban karena ulah kita sendiri.

            Mari kita selamatkan negeri kita, mulai dari kesadaran sepenuh hari, mulai dari kota kelahiran kita masing-masing. Jadilah generasi yang pernah menyelamatkan kegersangan ini, karena dengan banyak pohon yang tertanam kembali, kemudian tumbuh menjadi besar, maka akan dapat menyerap dan menahan agar tanah tidak longsor yang kemudian dapat mengendalikan debit air. Saya pikir ini cara yang paling ampuh yang dapat kita dilakukan.

            Yang lalu biarlah berlalu, ayo memandang kedepan, nyanyian Lestari alamku mari kita wujudkan, mari berkaca pada hutan di South Lake Tahoe, karena segelintir yang menikmati tapi sengsara semuanya adalah ulah waktu dulu yang merusak hutan dinegeri tercinta ini. ***

Editor: DKA
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *