5.403 Jiwa Terdampak, 2 Desa Terisolir 

  • Bagikan
TERISOLIR- Kondisi banjir di Desa Rungun dan Kondang, Kecamatan Kotawaringin Lama.  TERGENANG- Jalan penghubung Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama kini mulai tergenang banjir. Pengendara motor terpaksa menggunakan jasa angkutan getek. TABENGAN/YULIANTINI

PANGKALAN BUN– Belum meredanya hujan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, berdampak makin meluasnya luapan air sungai. Sebanyak 5.403 jiwa dari 2 kecamatan terdampak banjir. Kini masyarakat hanya bisa pasrah menunggu banjir surut.

Camat Kotawaringin Lama  Nahwani menjelaskan, hampir 2 minggu ini di wilayahnya ada 3 desa, yakni Desa Lalang, Rungun dan Kondang yang terendam banjir. Selain itu, banjir menerjang 2 kelurahan, Kelurahan Kotawaringin Hulu dan Kotawaringin Hilir.

TERISOLIR- Kondisi banjir di Desa Rungun dan Kondang, Kecamatan Kotawaringin Lama. 
TERGENANG- Jalan penghubung Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama kini mulai tergenang banjir. Pengendara motor terpaksa menggunakan jasa angkutan getek. TABENGAN/YULIANTINI

“Banjir di Kecamatan Kotawaringin Lama ini karena DAS Lamandau terus bertambah debit airnya, sehingga bukan saja menggenangi akses jalan menuju desa, tapi juga merendam permukiman warga. Akibat banjir ada 2 desa yang saat ini terisolir, Desa Rungun dan Kondang, karena akses jalan tergenang banjir cukup dalam,” kata Nahwani kepada Tabengan, Rabu (8/9).

Nahwani merincikan, jumlah rumah yang terdampak banjir sebanyak 932 yang dihuni oleh 999 KK atau 3.800  jiwa. Kondisi banjir yang paling parah terjadi di Desa Kondang dan Rungun. Pihaknya pun selalu berkoordinasi dengan aparat desa setempat agar terus memantau kondisi debit air. Jika sangat membahayakan segera lakukan evakuasi.

“Untuk Desa Rungun dan Kondang, kantor desanya saja sudah terendam banjir, sehingga kami arahkan untuk tempat pengungsian di bagian lebih tinggi. Kami sangat khawatir debit air Sungai Lamandau akan terus bertambah karena curah hujan setiap hari masih turun dengan intensitas yang sangat tinggi,” katanya.

Disebutkan, jumlah yang terdampak banjir di Kelurahan Kotawaringin Lama Hilir sebanyak 307 rumah yang dihuni 372 KK dengan 1.236 jiwa. Kelurahan Kotawaringin Hulu ada 120 rumah yang dihuni 125 KK dan 500 jiwa.

Desa Rungun ada 326 rumah, dengan 404 KK dan 1.473 jiwa, Desa Kondang ada 92 rumah dengan jumlah 120 KK dan 435 jiwa. Desa Lalang ada 26 rumah dari 26 KK dan 104 jiwa.

Sementara itu, data warga yang terdampak banjir di Kecamatan Arut Utara sebanyak 1.603 jiwa (data dari Polsek Arut Utara). Rincinya, Kelurahan Pangkut 300 rumah  dengan jumlah 328 KK dan 580 jiwa. Desa Nanga Moa 50 rumah, 64 KK dan 182 jiwa. Desa Sukarami 44 rumah, 50 KK dan 131 jiwa. Desa Gandis 64 rumah, 64 KK .

Desa Kerabu ada  30 rumah, 74 KK dan 50 jiwa. Desa Penyombaan 75 rumah, 75 KK dan 186 jiwa. Desa Sambi 40 rumah, 40 KK, 144 jiwa. Desa Riam 24 rumah, 24 KK dan 58 jiwa. Desa Panahan 143, 60 KK dan 174 jiwa.  Pandau 16 rumah, 18 KK dan 58 jiwa dan Desa Sungai Dau 11 rumah, 14 KK dan 40 jiwa.

Terpisah, Kepada Desa Rungun Gusti Mawardi mengatakan, banjir yang melanda Desa Rungun terjadi sejak 21 Agustus 2021. Banjir akibat luapan DAS Lamandau dan hingga saat ini masyarakat masih tetap bertahan di rumah masing-masing.

“Jumlah KK di Desa Rungun ada 404 dan 1.500 jiwa. Dari jumlah rumah yang ada, 100 rumah tenggelam, dan saat ini kebutuhan yang mendesak adalah air bersih, karena sumur milik masyarakat telah terendam banjir,” kata Gusti, Rabu.

Gusti menambahkan, kebutuhan air bersih telah disampaikan kepada pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar. Berdasarkan informasi air bersih tersebut akan disuplai menggunakan tangki.

Sementara, lanjut Gusti, akses jalan dalam desa telah terendam sedalam 20 cm. Konstruksi jalan desa dibangun siring dengan ketinggian 1,20 meter. Jika akses jalan yang ada di dalam desa telah tenggelam, secara otomatis kondisi rumah masyarakat akan lebih parah.

Kepala Desa Kondang Hendro mengatakan, hampir 3 minggu ini Desa Kondang terendam banjir. Saat ini 137 KK atau 496 jiwa, ada sebagian yang mengungsi ke rumah sanak saudara dan ada masih tetap bertahan. Sementara akses jalan ke Desa Kondang tidak bisa dilalui melalui darat, kecuali dengan kelotok.

“12 rumah tenggelam, sementara rumah warga yang lainnya rata-rata kedalaman mencapai 50 cm. Banjir pun menggenangi fasilitas umum seperti sekolah dan kantor desa, masyarakat yang memilih tetap bertahan di rumah, meraka membuat panggung di dalam rumah,” ujar Hendro.  c-uli

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *