Hutan Wilayah Hulu Dibabat Secara Masif

  • Bagikan
Direktur Eksekutif WALHI Kalteng Dimas Novan Hartono

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Bencana banjir di Kalimantan Tengah (Kalteng) hampir terjadi di semua wilayah. Paling parah dirasakan Kabupaten Katingan, sampai harus menutup akses menuju wilayah tersebut akibat kondisi air yang terus naik. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalteng memberikan pandangan atas kondisi bencana banjir di Kalteng, khususnya yang dialami Kabupaten Katingan.

Direktur Eksekutif WALHI Kalteng Dimas Novan Hartono mengemukakan, banjir dapat dicegah apabila kondisi hutan di Kalteng bisa terjaga dengan baik. Kenyataan di lapangan yang terjadi adalah sebaliknya. Ada 3 aspek yang menyebabkan banjir di Kalteng menjadi sangat parah, dan melanda sejumlah daerah di Kalteng.

Pertama, jelas Dimas, kondisi hulu wilayah Kalteng. Kedua, kondisi sungai, dan ketiga, kondisi yang ada di hilirnya. Permasalahan terbesar ada di kondisi hulu wilayah Kalteng, dari tahun ke tahun terjadi pembukaan hutan secara masif. Pembukaan hutan secara masif dilakukan baik yang memiliki izin atau legal, maupun yang tidak memiliki izin atau ilegal.

“Dibabatnya hutan secara masif, membuat hutan tidak mampu menahan laju air saat hujan terjadi berkepanjangan. Bagaimanapun, bagian hulu menjadi benteng utama dalam menahan laju air dalam jumlah yang berlebihan. Hutan yang dibuka, membuat luasan resapan hujan yang menjadi pondasi dalam menahan air menjadi berkurang, akibatnya air langsung mengalir dan tumpah ke sungai,” kata Dimas di Palangka Raya, Rabu (7/9).

Dimas mengatakan, keberadaan hutan yang luas, akan membuat debit air mampu ditahan, sehingga tidak langsung menuju sungai. Selanjutnya, wilayah tengah atau tepatnya aliran sungai. Sekarang ini kondisi sungai di Kalteng tak bisa dipungkiri terjadi pendangkalan. Penyebab utamanya kembali ada di bagian hulu, pembabatan hutan secara masif.

Tidak ada penahan debit air yang berlebih, urai Dimas, membuat air langsung tumpah ke sungai. Aliran sungai yang saat ini kerap menjadi pendangkalan. Faktor penyebabnya terjadi pembukaan lahan di bagian hulu, maka kerap terjadi erosi berupa proses pengikisan batuan, tanah, maupun padatan lainnya yang disebabkan oleh gerakan air yang tinggi.

Dimas menegaskan, hilangnya tutupan hutan penyebab erosi ini, belum lagi pendangkalan sungai yang disebabkan aktivitas pertambangan yang tidak terkontrol, maupun perubahan jalur air karena adanya sektor perkebunan.

Terakhir, kata Dimas, wilayah hilir yang juga rusak. Diketahui wilayah hilir di Kalteng merupakan gambut yang saat ini telah rusak, disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk aktivitas perkebunan, infrastruktur dan lainnya. Aktivitas tersebut tanpa melihat dampak lingkungan.

Kerusakan gambut juga diperparah dengan kerap terbakar, sehingga gambut yang dapat menampung aliran air dari hulu pun tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Apabila kondisi sumber daya alam baik, dengan intensitas hujan yang tinggi, maka banjir tidak akan separah saat ini. ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *