Petani Sayur di Kobar Alami Kerugian karena Banjir

  • Bagikan
BANJIR – Seorang petani di Desa Karang Anyar terpaksa memanen sebagian sayur mayur akibat lahan pertaniannya terendam banjir, Rabu (8/9) TABENGAN/YULIANTINI

PANGKALAN BUN/TABENGAN.COM – Akibat dari tingginya curah hujan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mengakibatkan puluhan hektare lahan pertanian di Desa Kumpai Batu Bawah dan Karang Anyar, Kecamatan Arut Selatan terendam banjir, akibat debit air sungai Arut terus bertambah.

Terendamnya areal pertanian, para petani pun hanya bisa meringis alias senyum kecut, dan untuk menyelamatkan hasil tanaman, maka panen pun dipercepat. Sebab jika tidak cepat di panen, maka seluruh tanaman akan mati terendam banjir.

Martini, salah seorang anggota kelompok tani di RT 08, Desa Kumpai Batu Bawah, mengatakan di Desa Kumpai Batu Bawah telah terbentuk 13 kelompok tani, masing masing kelompok beranggotakan 25 orang, saat ini semua kelompok mengalami serupa yang dialaminya.

“Hampir sepekan ini, lahan pertanian kami terendam banjir.  Kami tidak tahu sampai kapan karena hujan terus menerus turun, sehingga kami pun harus segera untuk panen tanaman sayur mayur, kalau kelamaan terendam banjir bisa mati, kami akan rugi pastinya,” Kata Martini kepada Tabengan, Rabu (8/9).

Martini mengaku hanya bisa memanen sebagian tanaman bawang prei yang masih bisa diselamatkan,sementara sebagian lainnya sudah terendam dan busuk akibat terendam banjir.

“Ada yang dipanen sebelum waktunya dan ada juga dipindah ke tempat yang lebih tinggi seperti di pinggir pinggir jalan dan juga polybag, sebab  kalo dibiarkan mati,” ujarnya.

Sementara itu di Desa Karang Anyar wilayah RT 24 Kelurahan Mendawai mengalami hal serupa, akibat luapan air Sungai Arut, puluhan hektare tanaman sayur milik dua kelompok tani juga terendam air.

Salah seorang anggota kelompok tani Sugianto mengatakan, banjir sudah mulai naik ke lahan pertanian sekitar seminggu terakhir, akibatnya  hampir semua tanaman seperti sawi, cabai, tomat terendam semua, kemungkinan banjir masih belum ada tanda tanda akan surut.

“Kami sedih dengan kondisi seperti ini, sudah Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, ditambah kami gagal panen karena banjir, kami berharap  banjir kali ini tidak semakin bertambah namun segera surut sehingga aktivitas pertanian mereka dapat kembali normal, ” ujar Sugianto dengan wajah sedih. c-uli

Penulis: YULIANTINIEditor: DKA
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *