11 Kabupaten Masih Terendam

  • Bagikan

*Jalan Kasongan-Sampit Nyaris Putus

KASONGAN/TABENGAN.COM– Bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Kalimantan Tengah belum reda. Di Kabupaten Katingan, ruas jalan antara Kota Kasongan ke Kereng Pangi, Desa Hampalit menuju Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) nyaris putus tak bisa dilewati. Beberapa titik jalan terdampak banjir yang kian hari terus meningkat.

Arul, salah satu relawan di lapangan saat dikonfirmasi, Senin (6/9), mengungkapkan, beberapa titik banjir kiriman dari hulu Katingan terdalam ada di atas km 1, km 12 dan km 14. Sedangkan kedalamannya berkisar antara 50 cm hingga 90 cm.

Khusus untuk kendaraan roda 2 dan roda 4, menurut Arul, tak bisa lewat di beberapa titik ruas jalan tersebut. Kecuali kendaraan roda 4 yang tergolong besar, seperti truk.

“Kalau toh ingin lewat juga, kendaraan roda 2 bisa dibantu kendaraan roda 4 jenis truk atau dibantu dengan perahu. Sementara untuk kendaraan roda 4 yang kapasitasnya agak kecil kemungkinan besar tidak bisa lewat. Bukan hanya lantaran kedalaman debit airnya yang menjadi penyebab, tapi arus airnya agak kencang,” terang relawan yang tergabung di organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) di Kabupaten Katingan ini.

Sementara itu, banjir yang melanda wilayah Kabupaten Lamandau, hingga Senin, semakin meluas. Tercatat sudah 5 kecamatan, yakni Kecamatan Bulik, Bulik Timur, Belantikan Raya, Sematu Jaya dan Menthobi Raya diterjang banjir.

Pemerintah Kabupaten Lamandau pun telah menetapkan status Siaga Darurat Banjir. Hal itu disampaikan Bupati Lamandau H Hendra Lesmana saat dikonfirmasi via WhatsApp. “Sudah ditetapkan status Siaga Darurat Banjir sejak 4 September lalu,” katanya.

Hujan yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Gunung Mas belakangan ini juga membuat air sungai di daerah tersebut meluap. Beberapa titik akses transportasi darat terendam banjir cukup parah. Bahkan, hampir semua kecamatan di Gunung Mas terdampak banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunung Mas Champili menerangkan, beberapa kecamatan yang terdampak banjir cukup parah yaitu Kecamatan Kurun, Tewah, Kahayan Hulu Utara, Sepang dan Miri Manasa.

“BPBD masih melakukan proses pendataan bagi yang terdampak banjir di Kabupaten Gunung Mas. Saat ini statusnya masih diproses pendataan terhadap keluarga yang rumahnya terdampak dan akan segera diselesaikan,” ungkapnya, Senin.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Murung Raya Kariadi mengungkapkan, saat ini terdata sebanyak 5 kecamatan, 16 desa dan kelurahan yang terendam banjir akibat meluapnya Sungai Barito. Ketinggian air mencapai 1 meter.

Sementara, beberapa tempat di wilayah Kabupaten Barito Utara juga mulai terendam banjir akibat curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari terakhir, sehingga menyebabkan meluapnya Sungai Barito.

Indra, salah seorang warga Kota Muara Teweh yang tinggal di seputaran Rapen, Kecamatan Teweh Tengah mengatakan, saat ini di sejumlah kawasan di dataran rendah dalam Kota Muara Teweh mulai terendam banjir sejak Sabtu (4/9)  dan hingga kemarin air terlihat terus naik dengan cepat naik.

“Pada Minggu (5/9), air mulai merendam sejumlah jalan di dataran rendah Kota Muara Teweh terutama jalan yang menjadi langganan banjir tahunan,” ungkapnya, Senin.

Selain itu, banjir juga mulai merendam sejumlah kawasan,  di antaranya sebagian Jalan Merak, Imam Bonjol, Dahlia, Flores, kawasan Masjid Jami, dan sejumlah jalan lainnya.

Pantauan Tabengan, Senin siang, terlihat kawasan Jalan Merak sudah tidak bisa dilewati kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor. Begitu pula bagi warga Desa Pendreh yang ingin bepergian ke Kota Muara Teweh, harus siap menghadapi 2 titik banjir  yang tidak bisa dilewati kendaraan bermotor.

Untuk bisa melintasi banjir sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman sepinggang orang dewasa, kendaraan seperti sepeda motor harus dibantu dengan menggunakan perahu kecil/getek penyeberangan. Biaya untuk 1 unit sepeda motor yang hendak menyeberang menggunakan getek sebesar Rp10 ribu.

Sementara dari Kabupaten Kapuas, dilaporkan 2 desa di wilayah Kecamatan Kapuas Tengah juga mulai kebanjiran. Bisi, Kepala Desa Bajuh, Kecamatan Kapuas Tengah, Senin, mengatakan, luapan air hingga masuk ke dalam rumah  terjadi sekitar pukul 21.30 WIB pada Minggu (5/9). Sebelumnya hanya di permukiman saja dengan ketinggian selutut orang dewasa.

Hal yang sama juga mulai dirasakan warga Desa Merapit. Permukiman warga desa setempat juga mulai digenangi air, namun ketinggian air tidak separah yang dialami warga Desa Bajuh. c-dar/c-kar/c-hen/c-sjs/c-hrt/cyul

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *