PETAKA BANJIR KALTENG

  • Bagikan
PETAKA BANJIR  - Kondisi banjir  di 11 kabupaten dan kota di Kalteng. Tampak diantaranya, Kotim, Kobar, Seruyan, Katingan, Pulang Pisau, Murung Raya dan Muara Teweh

*Kobar, Kotim, Seruyan, Palangka Raya, Pulpis, Barut, Mura, Lamandau, Katingan, Sukamara, Gunung Mas Terendam

NANGA BULIK- Petaka banjir yang melanda sejumlah kabupaten di Kalimantan Tengah (Kalteng) makin parah. Di Kabupaten Lamandau, misalnya, banjir menerjang Desa Bunut, Sungai Mentawa, Kujan, Batu Kotam hingga beberapa RT di Kelurahan Nanga Bulik, Kecamatan Bulik.

Sementara, di Kecamatan Bulik Timur banjir terjadi di Desa Nanga Palikodan. Kemudian di Desa Bintang Mengalih dan Nanga Belantikan, Kecamatan Belantikan Raya. Desa Melata, Kecamatan Menthobi Raya, juga tak luput dari bencana banjir tahun ini.

Akibat terendam cukup parah, ratusan warga yang rumahnya kebanjiran terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tak hanya merendam permukiman warga, banjir kali ini juga merendam sejumlah fasilitas umum.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau melalui instansi terkait sejak sepekan terakhir juga sudah melaksanakan upaya penanganan terhadap warga yang terdampak banjir.

Bahkan, Dinas Sosial (Dinsos) setempat bersama dengan pemerintah kecamatan, kelurahan dan desa kini telah mendirikan tenda pengungsian. Warga yang tempat tinggalnya terendam banjir parah sejak 3 hari lalu sudah mengungsi.

Hingga Sabtu (4/9) malam, di Kelurahan Nanga Bulik tercatat sudah ada 481 warga dari 134 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak banjir.

“Kondisi terkini debit air masih terus naik,” ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamandau Edison Dewel, Minggu (5/9).

Edison menyebut, berdasarkan alat ukur yang ada di STA Dermaga Batu Bisa, Tinggi Muka Air (TMA) Daerah Aliran Sungai (DAS) Lamandau pada Minggu pagi mencapai 730 cm.

“Saat ini kita berada pada status dadurat banjir. Sebab, TMA pagi ini mengalami kenaikan 8 cm dari sore kemarin,” tandasnya.

Rendam 7 Kecamatan di Seruyan

Kepala BPBD Seruyan Agung Sulistyo melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Seruyan Togirin mengatakan, berdasarkan data BPBD Seruyan diketahui bencana banjir saat ini terjadi pada 7 wilayah kecamatan.

Dijelaskan, banjir terjadi akibat intensitas hujan di daerah hulu Kabupaten Seruyan yang cukup tinggi, sehingga membuat beberapa wilayah mengalami kenaikan debit air.

“Hujan dengan durasi hingga 9 jam ini mengakibatkan air kembali naik dan beberapa wilayah kecamatan mulai terdampak banjir,” katanya saat di hubungi via WhatsApp, Minggu.

Wilayah kecamatan yang saat ini terdampak banjir, yakni Danau Seluluk ada 5 desa, Batu Ampar 1 desa, Hanau 7 desa, Kecamatan Seruyan Hulu 1 desa, Seruyan Tengah 2 desa, Danau Sembuluh 2 desa dan Seruyan Raya 1 desa.

Adapun ketinggian banjir pada wilayah desa yang terdampak banjir, bervariasi antara 10 hingga 45 cm. Pihaknya meminta kepada warga agar tetap siaga dan waspada. Langkah yang telah diambil BPBD Seruyan pada setiap kecamatan terdampak banjir menyiapkan dataran tinggi untuk dijadikan lokasi pengungsian.

“Untuk menetapkan status darurat itu ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, seperti apa yang terjadi di tahun 2020 lalu. Salah satunya memengaruhi aktivitas masyarakat yang tidak bisa melakukan apa-apa” ujarnya.

Ratusan Warga Katingan Dievakuasi

Banjir yang terjadi di Kabupaten Katingan, juga terus meluas dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Di bagian Hulu Katingan terutama di Kecamatan Katingan Hulu, Marikit dan Katingan Tengah, banjir merendam rumah warga yang berada di pinggir Sungai Katingan.

Debit air yang terus meningkat ditambah curah hujan tinggi, mengakibatkan rumah warga terendam hingga di bagian titik terendah. Hanya tertinggal bagian atapnya.

Banjir juga merendam fasilitas publik, jalan raya serta kompleks pertokoaan, seperti di Tumbang Hiran, Ibu Kota Kecamatan Marikit. Sementara di Tumbang Samba, Ibu Kota Katingan Tengah, banjir juga parah, sehingga disebut sebagai banjir terparah sejak 2017.

Anggota DPRD Katingan Rudi Hartono, Minggu (5/9), mengatakan, banjir kali benar-benar luar biasa. Lebih dalam dari banjir 2017 atau 4 tahun lalu.

Banjir, menurut Rudi, bukan hanya merendam ratusan rumah penduduk, perkantoran dan tempat-tempat untuk beraktivitas saja, tapi juga mengakibatkan ratusan warganya yang tidak bisa lagi menjalankan aktivitas rutinnya selama satu pekan ini.

Dampak terbesar dari banjir ini juga mengakibatkan sekitar 100 jiwa lebih warga Desa Samba Bakumpai dan Samba Danum terpaksa dievakuasi dan diungsikan ke dataran yang agak tinggi dan sebagian juga diungsikan ke posko bencana banjir.

Sementara, Camat Sanaman Mantikei Andrei Nathanael membagi-bagikan makanan siap saji kepada warganya yang terdampak banjir, Sabtu (4/9), dari pagi hingga sore.

“Dalam kondisi banjir seperti ini, kita bantulah dengan membagi-bagikan makanan siap saji kepada mereka,” ujar Andrei.

Adapun bahan seperti beras, sayur dan lauk-pauk lainnya yang disajikan, selain berasal dari bantuan sosial yang diberikan oleh Pemkab Katingan, juga berasal dari donator lainnya.

Petugas Buka Tutup Jalan

Sementara itu, sejak Minggu pagi, kondisi air banjir di Jalan Trans Kalimantan Palangka Raya-Kuala Kurun, tepatnya di Desa Penda Barania, Kecamatan Kahayan Tengah mulai terlihat surut sekitar 5 cm, tapi debit air ini kemungkinan pada sore hari akan ada kenaikan kembali. Demikian disampaikan Camat Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau Siswo.

Dikatakannya, meski antrean sampai sekarang masih cukup padat, lalu lintas sudah berjalan lancar dan telah dilakukan rekayasa lalu lintas buka tutup dari arah berlawanan, dengan jumlah 30 sekali melintas untuk kendaraan roda 4.

“Ini berkat kesigapan petugas di lapangan oleh personel Polsek Kahayan Tengah, BKO Polres Pulang Pisau Pos Lantas Bukit Rawi, Koramil Kahayan Tengah, dan Perhubungan Provinsi,” kata Siswo.

Siswo menambahkan, kemungkinan dalam 2 hari ke depan, air diperkirakan akan kembali naik mengingat adanya air kiriman dari Gunung Mas yang saat ini mulai banjir dan  hampir setiap hari hujan.

16 Desa di Mura

“Berdasarkan laporan yang sudah kami terima tadi sore, sebanyak 16 desa/kelurahan di lima kecamatan sudah dalam keadaan terendam banjir,” ucap Kelapa Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Murung Raya, Kariadi di Puruk Cahu, Sabtu.
Dikatakan Kariadi, kondisi banjir di beberapa wilayah tersebut ketinggiannya sudah mencapai lebih dari satu meter. Kondisi banjir diperkirakan terus mengalami kenaikan.
“Pantauan terakhir kami tadi pada alat pengukur ketinggian air sungai sudah pada level 7,40 meter dengan statusnya akan terus mengalami kenaikan,” tambahnya.
Wilayah yang terkena banjir yaitu Kecamatan Laung Tuhup meliputi Kelurahan Batu Bua I, Desa Batu Bua II, Kelurahan Muara Tuhup dan Kelurahan Muara Laung I. Sedangan di Kecamatan Seribu Riam hanya Desa Muara Joloi II dan Kecamatan Permata Intan di Kelurahan Tumbang Lahung serta di Kelurahan Muara Bakanon.
“Selanjutnya Kecamatan Sumber Barito yang terendam banjir di Kelurahan Tumbang Kunyi, Desa Tumbang Masao, Desa Muara Babuat dan Desa Tumbang Tuan,” sebut Kariadi.
Lokasi lainnya yang dilanda banjir adalah Kecamatan Murung meliputi Desa Muara Sumpoi, Desa Juking Pajang, Desa Danau Usung, Desa Mangkahui dan Kelurahan Puruk Cahu Seberang.

Banjir di Muara Teweh

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Utara Rizali Hadi mengatakan banjir yang melanda daerah itu sampai Ahad sore masih naik, banjir sejumlah desa dan kelurahan pada tujuh dari sembilan kecamatan dengan ketinggian bervariasi antara 20 centimeter sampai 2 meter.

“Untuk sementara kawasan yang parah dilanda banjir yakni Dusun Pararawen Kecamatan Teweh Tengah dengan ketinggian banjir mencapai dua meter,” katanya.

Wilayah di Kecamatan Teweh Tengah lainnya yang terendam banjir selain sebagian Kota Muara Teweh, juga Desa Lemo I dengan ketinggian banjir 115 cm. Kawasan lainnya di Kecamatan Lahei meliputi Kelurahan Lahei II dan Desa Karendan masing-masing tinggi air mencapai 1,5 meter dan Desa Hurung Enep dengan banjir 100 cm. Kemudian Desa Papar Pujung dengan air ketinggian 1,2 meter dan Desa Benao Hilir 115 cm, keduanya berada di Kecamatan Lahei Barat.

Untuk Kelurahan Montallat I dan Montallat II dengan kedalaman air sekitar 1 meter. Selanjutnya di wilayah Kecamatan Gunung Timang banjir melanda Desa Batu Raya I dengan banjir 50-60 cm.

Untuk banjir di Kecamatan Teweh Baru, yakni Kelurahan Jingah RT 7 dengan ketinggian banjir 20-30 cm, Juking Hara 120 cm dan Manggala sekitar 100 cm, sedangkan Kecamatan Teweh Selatan berada di Desa Bintang Ninggi I dan Bintang Ninggi II yakni jalan arah ke Muara Teweh akses utama jalan darat sudah terendam banjir dan jembatan sudah menggunakan angkutan getek.

Debit Air di Palangka Raya Naik
Jalan Pelatuk tinggi air telah mencapai 50 sentimeter di bawah badan jalan. Kemudian di Jalan Mendawai tinggi air telah mencapai sekitar satu meter bawah badan jalan.
Kedua wilayah ini menjadi indikator kenaikan debit air Sungai Kahayan. Kedua wilayah yang memiliki kontur cukup rendah itu juga menjadi titik langganan banjir saat musim hujan tiba.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Palangka Raya, Emi Abriyani meminta warga di kota setempat mewaspadai potensi banjir kiriman.
“Wilayah Palangka Raya dilintasi tiga sungai besar yakni Sungai Kahayan, Rungan dan Sabangau. Belum lagi sejumlah daerah tetangga seperti Katingan dan Gunung Mas juga telah terjadi banjir,” kata Emi, seraya menambahkan, diantara lokasi tersebut seperti di Kelurahan Bukit Batu, Kelurahan Petuk Bukit, Kelurahan Tangkiling, Kelurahan Bereng Bengkel, Kelurahan Kameloh Baru, Kelurahan Petuk Katimpun, kawasan mendawai dan kawasan pelabuhan.c-kar/c-vik/c-ger/c-mye/ist

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *