Warga Pertanyakan Kebenaran Makam Syekh Abu Hamid di Ujung Pandaran

  • Bagikan
Anwar Nuris

SAMPIT/TABENGAN.COM – Salah satu warga yang mengaku anak dari tokoh yang tahu sejarah Ujung Pandaran mempertanyakan kebenaran makam Datu Syekh Abu Hamid yang terletak di tepi pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.

“Pertanyaan mengganjal di hati kami. Apakah benar akurat itu makam ada jasad yang dikatakan Datu Abu Hamid? Mengingat beliau wafatnya tahun 18, atau seribu delapan ratus sekian masehi,” ujar Anwar Nuris saat dikonfirmasi media ini, Senin (23/8) kemarin.

Menurut kakek moyangnya, orang yang tinggal di ujung pandaran baru ada pada tahun 1950. Bahkan, di tahun 70-an, yang mendirikan pondok baru ada sekitar 3 sampai 4 buah rumah.

Dalam sejarah, mengatakan bahwa datu Abu Hamid ikut kapal pinisi tujuan ke Banjar. Namun, karena cuaca buruk angin ribut dan badai, Datu jatuh sakit hingga wafat dan dikubur di muara Sampit.

“Pertanyaannya, kalau begitu kapal tidak dalam ke adaan darurat. Pasti nahkoda menyandarkan kapal ke pelabuhan atau BoM (di Jaman Belanda 1858M). Kecuali kapalnya pecah atau terdampar, apakah waktu itu ujung pandaran ada pelabuhan?,” tanyanya lagi dalam komentar Anwar.

Yang menjadi tanda tanya besarnya, siapa kapten kapalnya, siapa yang menguburkan beliau, dan dirinya menganggap mustahil kalau juriat yang menguburkan almarhum Datu Abu Hamid tidak tercatat dalam sejarah.

“Mohon maaf ulun menggunakan kata “kami” karena ulun mewakili orang tua-tuakami sejak 1991 dan tokoh yang tahu sejarah ujung pandaran,” Pungkasnya.prs

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *