HUT KE-76 RI – Mengenang 34 Tahun Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional Kalteng

  • Bagikan
Marsekal Pertama TNI (HOR) (Purn) Anakletus Tjilik Riwut atau akrab disebut Tjilik Riwut- PAHLAWAN KALTENG  - Tjilik Riwut bersama Presiden Soekarno. Tjilik Riwut saat dalam sebuah kegiatan pembangunan di Kalteng

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Bagi masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng), sosok Tjilik Riwut sudah tak asing lagi. Dia dikenal sebagai pendiri Kalteng, Pahlawan Nasional, Gubernur pertama Kalteng, sekaligus pujaan dan panutan bagi masyarakat Kalteng. Tanggal 17 Agustus 2021, bertepatan dengan 34 tahun meninggalnya Tjilik Riwut.

Marsekal Pertama TNI (HOR) (Purn) Anakletus Tjilik Riwut atau akrab disebut Tjilik Riwut, adalah putra dari pasangan Riwut Dahiang dan Piai Sulang. Dilahirkan di Kasongan, Kabupaten Katingan, pada tanggal 2 Februari 1918, dan merupakan salah satu putra Dayak dari suku Dayak Ngaju yang sangat dihormati atas jasa-jasa yang diberikan bagi Indonesia, khususnya Kalteng.

Tjilik Riwut Bersama Keluarga

Tjilik Riwut memiliki kebanggaan yang luar biasa atas tanah Kalimantan. Dia bangga menyatakan sebagai “orang hutan”, karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan. Begitu cintanya terhadap alam, Tjilik Riwut telah 3 kali mengelilingi Pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, menaiki perahu dan rakit.

Tjilik Riwut salah seorang yang sangat berjasa bagi masuknya Pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putra Dayak, Tjilik Riwut telah mewakili 185.000 rakyat Kalimantan, yang terdiri dari 142 suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih dan 2 tumenggung yang berasal dari pedalaman Kalimantan, dan bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat di hadapan Presiden Soekarno di Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Desember 1946.

Di masa mudanya, Tjilik Riwut menamatkan pendidikan dasar di kota kelahirannya, Banjarmasin. Selanjutnya mengenyam pendidikan di Sekolah Perawat di Purwakarta dan Bandung. Setelah dari Pulau Jawa untuk menuntut ilmu, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan oleh Gubernur Borneo Pangeran Muhammad Noor.

Menjalankan misi Pemerintah RI yang baru saja terbentuk, Tjilik Riwut terjun bersama Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F. M. Suyoto, Bahrie, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Mika Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J. H. Darius dan Marawi untuk merebut Kalimantan.

Rombongan ekspedisi ke Kalimantan dari Jawa yang kemudian membentuk barisan perjuangan di daerah yang sangat luas ini. Berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan dihubungi untuk menyatukan persepsi rakyat yang sudah bosan hidup di alam penjajahan, sehingga bersama-sama dapat menggalang persatuan dan kesatuan.

Sebagai tentara, Tjilik Riwut memiliki pengalaman perang meliputi sebagian besar Pulau Kalimantan dan Jawa. Tjilik Riwut berjasa memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU yang diperingati setiap 17 Oktober.

Waktu itu, Pemerintah RI masih di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI. Pangkat terakhir Tjilik Riwut, Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Tjilik Riwut salah satu putra Dayak dari suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampaui batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa.

Atas jasanya, Tjilik Riwut ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 108/TK/Tahun 1998, pada 6 November 1998.

Perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan dan menjadi Gubernur Kalteng pertama di tahun 1958, setelah sebelumnya menjadi Wedana Sampit lalu Bupati Kotawaringin. Tjilik Riwut juga menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagai Anggota DPR RI.

Tjilik Riwut mengawali perjuangannya semenjak memasuki dunia jurnalistik pada tahun 1936. Pada tahun 1940, dia menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pakat yang bernama Suara Pakat, juga bekerja sebagai koresponden Harian Pembangunan dan Harian Pemandangan.

Keterampilan dalam menulis diasahnya semasa bergabung dengan Sanusi Pane di Harian Pembangunan. Tjilik Riwut telah menulis sejumlah buku mengenai Kalimantan. Di antaranya Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965), Stensilan dalam bahasa Dayak Ngaju, Kalimantan Membangun (1979), Kalimantan Memanggil (1958), Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raya (1962).

Pada Senin, 17 Agustus 1987, yang bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin, karena menderita penyakit liver/hepatitis dalam usia 69 tahun. Almarhum Tjilik Riwut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya, Kalteng. Namanya kini diabadikan untuk salah satu bandar udara yaitu Bandar Udara Tjilik Riwut dan jalan utama di Palangka Raya.

Terima Kasih Marsekal Pertama TNI (HOR) (Purn) Anakletus Tjilik Riwut Atas jasamu kepada Kalimantan Tengah. (semua data diambil dari berbagai sumber). ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *