Yayasan Tabitha Banjir Pesanan Peti Jenazah

  • Bagikan
PETI MATI- Beberapa peti jenazah untuk pasien Covid-19 dalam proses pengerjaan, Rabu (4/8). TABENGAN/DANIEL

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Lonjakan angka kematian pasien Covid-19 di Kalimantan Tengah, khususnya di Palangka Raya mencapai 100 persen lebih. Tak ayal, kendisi tersebut membuat para perajin peti mati di kota ini kebanjiran order. Tiap hari selalu ada saja pesanan.

Christian, salah seorang karyawan Yayasan Tabitha, saat dibincangi Tabengan, Rabu (4/8), mengungkapkan, pemesanan peti jenazah khusus pasien Covid-19 belakangan ini naik begitu signifikan.

Pada Juni 2021 lalu, tutur Christian, permintaan peti jenazah untuk pasien meninggal akibat Covid-19 hanya sebanyak 44 permintaan. Namun, pada akhir Juli 2021 permintaan peti jenazah pasien Covid-19 menjadi 210 permintaan.

“Juni 44 peti yang diminta dari RS. Masuk Juli, semakin meningkat, bahkan di akhir Juli tercatat 210 permintaan peti khusus Covid. Sehari bisa 20 permintaan di bulan Juli,” bebernya.

Pria bertubuh tinggi kurus itu menambahkan, memasuki Agustus 2021, per 1 Agustus ada 10 permintaan peti jenazah bagi pasien Covid-19.

“Yang pesan itu RS Doris, RS Bayangkara, juga Siloam. Tapi untuk data fix yang terbaru belum dapat dipastikan. Karena kita kan masih baru awal Agustus ini,” ujarnya.

Karena banyaknya permintaan peti jenazah Covid-19, bahan yang digunakan pun tidak dapat memakai kayu yang berat. Bahan diganti dengan plywood. Oleh karena selalu datang permintaan setiap hari, sedangkan bahan-bahan yang siap sedia mudah didapat plywood.

Christian juga mengatakan, semua biaya penyediaan peti jenazah ditanggung pemerintah. Harga 1 peti dibanderol Rp2.500.000.

“Pemerintah yang bayar, 1 peti harga Rp2,5 juta. Kami cuma terima order dan buat,” tambah karyawan lainnya yang tidak mau sebutkan nama.

Saat ini pembuatan peti tidak dipusatkan di Jalan Kinibalu. Karena permintaan begitu banyak dan juga sumber daya manusia (SDM) pembuat peti tidak cukup.

Dikatakan Christian, pembuatan peti ada tersebar di 3 lokasi, yakni di Jalan Kinibalu, industri perkayuan di Jalan Tilung dan ada pula di wilayah Tangkiling.

Sementara, Yosi, Pemimpin Yayasan Tabitha, melalui pesan WhatsApp, Rabu, menyampaikan, dalam 1 hari setidaknya Tabitha menyetok 6 peti jenazah. Pemilihan menggunakan plywood untuk kasus Covid-19 karena butuh peti yang ekonomis dan ringan.

Dengan naiknya lonjakan pasien Covid-19 yang meninggal, terbesit ada kekhawatiran dalam diri Yosi. Sebab, memiliki risiko yang cukup tinggi saat mengadakan layanan pemakaman bagi pasien Covid-19.

“Kalau dari RS dan jelas statusnya apa dia negatif atau positif baru kami layani. Maaf kami tidak terima orang luar dulu. Karena rawan tertular kami atau tamu. Karena kami sangat bersentuhan. Kami off pelayanan sementara ini. Lagi pandemi tidak berani. Karena kami juga punya keluarga,” ucapnya.

Bahkan, ada secuil keinginannya mundur dari usaha peti jenazah ini. Namun hingga saat ini, pihak RS dan masyarakat masih terus memberikan kepercayaan kepada Yayasan Tabitha, sehingga apa yang dirasakan Yosi menjadi sebuah dilemanya.

“Ya, tapi saya mau mundur, tidak apa saja, siapa tahu yang lain mau mencoba, silakan. Banyak saja yayasan lain, tapi selama RS percaya sama kami, kami selalu siap,” tandasnya.

Dia menambahkan, berdasarkan informasi dr Ricka dari RS Doris, sejak 1-4 Agustus sudah 40 yang menggunakan peti mati Covid-19. Informasinya Agustus akan terus tren naik hingga September nanti, sehingga semua diimbau untuk selalu waspada. dsn/hil

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *