Palsukan Identitas untuk Menipu, Pasutri Dituntut 2,5 Tahun Penjara

  • Bagikan
Pasangan suami istri terdakwa perkara penipuan saat disidang di Pengadilan Negeri Palangka Raya, Senin (26/7/2021). ANDRE

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Pasangan suami istri (pasutri) Roni Hariono dan Nani Widiarti selaku terdakwa perkara penipuan menangis saat mendapat tuntutan penjara 2,5 tahun dari Jaksa Penuntut Umum pada sidang Pengadilan Negeri Palangka Raya, Senin (26/7/2021).

Keduanya membuat KTP dan KK palsu untuk bekerja sama dengan PT Lestari Sukses Mandiri (LSM) yang berujung dengan kerugian Rp837.425.000 akibat pembayaran dengan Bilyet Giro (BG) kosong.

“Mohon keringanan hukum. Saya masih punya tanggungan empat anak,” tangis Roni kepada Majelis Hakim.

Nani sambil menangis juga mengaku ingin dapat segera bertemu anak-anaknya lagi. Majelis Hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk pembacaan vonis.

Dalam surat dakwaan, perkara berawal ketila keduanya berencana membuka usaha pada tahun 2019. Karena nama mereka sudah masuk dalam daftar hitam atau blacklist pada pihak bank, keduanya membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) palsu yang tidak di-blacklist dengan menggunakan nama palsu atas nama Wiji Asih yakni penduduk Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.

Pada Januari 2020 mereka berangkat ke Palangka Raya dengan bermodalkan indentitas Wiji Asih keduanya membuka Giro Bank BNI Syariah. Roni pada Mei 2020 mendatangi kantor LSM yang bergerak di bidang usaha penyedia sembako dan bahan pembuatan kue untuk membicarakan kerja sama.

PT LSM setuju bekerja sama dengan Roni dan Nani. Keduanya memasukan order sembako dan bahan pokok pembuatan kue ke PT LSM pada bulan Juli 2020. Pihak dari PT LSM menyetujui pemesanan tersebut dengan catatan pelunasan pembayaran order harus dilakukan dalam waktu dua minggu setelah dilakuan order.

Awalnya Roni dan Nani memenuhi kewajiban pembayarannya kepada PT LSM, sehingga mereka dapat melakukan pemesanan barang kembali. Menggunakan BG, mereka membayar pesanan barang pada PT LSM hingga mencapai  total keseluruhan sebesar Rp837.425.000. Barang dari PT LSM dijual dengan tujuan ke Pulau Jawa dan hasilnya mereka gunakan untuk keperluan pribadi.

Belakangan, pihak PT LSM mendapat penolakan saat mencairkan BG di Kantor cabang BNI Syariah Palangka Raya. BG yang diberikan oleh Roni dan Nani berstatus dana tidak cukup. Pihak PT LSM mencoba menghubungi Roni dan Nani untuk melakukan penagihan namun tetap tidak ada pertanggungjawaban sehingga akhirnya dilaporkan ke Polda Kalteng. PT LSM mengaku mengalami kerugian Rp837.425.000 akibat perbuatan keduanya. Untuk menghindari pertanggung jawaban, Roni dan Nani sempat kabur ke Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Pihak kepolisian akhirnya berhasil mengamankan Roni dan Nani pada Maret 2021. dre

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *