Stok Obat Covid-19 Menipis

  • Bagikan
ILUSTRASI Remdesivir, Favipiravir, Azithromycin

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Semenjak terjadinya lonjakan jumlah pasien yang dirawat, ketersediaan obat Covid-19 di RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya mulai menipis. Namun, sudah dipesan dari distributor dan saat ini obat sedang dalam pengiriman.

Kepala Seksi Humas RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya Cipta Yanatama mengatakan, untuk sementara masih bisa melayani sampai seminggu, sambil menunggu pengiriman obat yang sedang dalam perjalanan. Meski begitu, pihaknya selalu memantau ketersediaan obat dan segera memesannya, walau sejumlah obat sulit diperoleh.

Terpisah, Kepala RS Perluasan RSUD Kota Palangka Raya dr Probo Wuryantoro SpPD mengungkapkan, untuk obat Favipiravir, persediaannya sudah habis. Sedangkan obat antivirus Remdesivir, hanya tersedia untuk beberapa hari.

Pihaknya sudah meminta bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng untuk menutup kekurangan obat. Remdesivir hanya  untuk penggunaan emergency pada pasien Covid-19 yang masuk dalam kategori berat dirawat inap di RS.

Sementara itu, Direktur RS Siloam Palangka Raya dokter Kevin Chrisanta Budiyatno mengakui, memang saat ini kesulitan untuk obat Remdesivir, Favipiravir, Azithromycin dan vitamin C. Mereka order obat secara rutin, tetapi memang belum datang dari distributornya. Kalau dihitung-hitung stok saat ini hanya untuk 5 hari ke depan.

Kepala Dinas Kesehatan Kalteng dr Suyuti Syamsul menambahkan, hal yang sama juga dialami oleh RS lain di Indonesia. Bukan hanya obat antivirus Covid-19, tetapi hampir semua obat-obatan lagi sulit dicari.

“Kami juga sudah meminta ke Kementerian Kesehatan untuk dikirimi obat-obatan yang diperlukan. Saat ini mau beli obat juga tidak ada yang jual. Sambil menunggu, bisa menggunakan obat lain yang masih ada,” kata Suyuti.

Menurutnya, semua sarana layanan kesehatan akan dibantu jika obatnya sudah tersedia. Tetapi hendaknya fasilitas kesehatan juga bisa pengadaan mandiri. Sebab, ketersediaan obat tetap menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan. Sedangkan obat yang di Dinkes, hanya bersifat dukungan. yml

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *