Pembuat Miras Tradisional Terancam 5 Bulan Penjara

  • Bagikan
Pujo Purnomo selaku Penasihat Hukum terdakwa menyatakan kliennya yang tertangkap karena membuat dan menjual miras tradisonal, sebenarnya telah memiliki izin.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Lukman yang membuat dan menjual minuman beralkohol tradisional terancam pidana penjara selama 5 bulan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang Pengadilan Negeri Palangka Raya, Kamis (22/7/2021).

Dalam persidangan sebelumnya, Lukman mengaku sudah mengantongi izin pembuatan miras atas nama almarhum istrinya. Usai persidangan, Pujo Purnomo selaku Penasihat Hukum terdakwa menyatakan, akan menyampaikan detail fakta dan bukti mereka pada sidang dengan agenda pembelaan.
Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum, aparat kepolisian menangkap Lukman di rumahnya Jalan Menteng X Kota Palangka Raya, Senin (6/1/2020). Dari rumah Lukman, polisi mendapati barang bukti berupa 3 tong masing-masing berkapasitas 130 liter yang berisi minuman beralkohol jenis baram. Selain itu ada 5 botol baram dengan label Bintang Kejora Katingan, 13 nampan rotan berisi ragi, 3 tong kosong, 290 botol kosong, 25 lembar kertas label Bintang Kejora Katingan, dan uang Rp75.000.

Minuman dikemas dengan botol plastik bekas air mineral bekas ukuran 600 mililiter dengan label Bintang Kejora Katingan dijual dengan harga Rp15.000 per botol. Pada label kemasan tidak mencantumkan keterangan mengenai komposisi, tanggal pembuatan dan kadaluwarsa, alamat usaha atau alamat lainnya. Setelah sekitar 1,5 tahun, barulah polisi melimpahkan perkara tersebut ke pihak kejaksaan.

Dalam persidangan, Lukman mengaku pembuat dan penjual baram pada awalnya adalah istrinya. Setelah usaha mereka digerebek dan divonis denda pada pengadilan tahun 2018 silam, Lukman kemudian mengurus perizinan ke instansi terkait atas nama istrinya.

Ketika usahanya berjalan, Lukman juga membayar pajak dan retribusi sesuai ketentuan. Saat istrinya meninggal, Lukman terus melanjutkan usaha pembuatan baram tersebut. JPU menyatakan masih ada masalah lain yakni penggunaan botol bekas air kemasan dan tidak mencantumkan keterangan produk sehingga diduga tidak memenuhi peraturan perundang-undangan. dre

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *