Apa Korelasi Penutupan Bundaran dengan Penurunan Covid-19?

  • Bagikan
Wakil Ketua DPRD Kalteng Faridawaty Darland Atjeh.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Jalur menuju Bundaran Besar tetap dilakukan penutupan dalam rangka pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Seluruh arus lalu lintas menuju Bundaran Besar dialihkan. Tidak ada penjelasan apa yang menjadi alasan penutupan, sehingga menimbulkan tanda tanya, termasuk bagi Wakil Ketua DPRD Kalteng Faridawaty Darland Atjeh.

Faridawaty mengkritik keras kebijakan menutup arus lalu lintas menuju Bundaran Besar. Bagaimanapun, arus menuju Bundaran Besar mempersingkat bagi masyarakat yang ingin menuju Jalan RTA Milono dari Tjilik Riwut, dan sebaliknya. Arus menuju Bundaran Besar juga dinilai mampu mengurai kepadatan kendaraan yang melintas.

Akibat penutupan, sesal Faridawaty, masyarakat harus memutar jauh. Baik untuk berurusan maupun untuk menuju tempat kerja. Akibatnya, justru jalan-jalan kecil yang menjadi padat, karena penumpukan kendaraan. Sudah masyarakat dihadapkan pada pandemi, diberikan kesulitan lagi pada kondisi pengalihan arus.

“Pemerintah setempat perlu melakukan sosialisasi tentang kebijakan kepada masyarakat, demi memberikan pemahaman. Saya saja, ketika ditanyakan apa korelasi penutupan jalan menuju Bundaran Besar, dengan penurunan angka terpapar Covid-19 sulit memberikan jawaban yang tepat. Pemerintah harus memberikan alasan penutupan tersebut, apa korelasi antara penutupan dengan penurunan angka Covid-19?” kata Faridawaty, saat kembali menyampaikan tanggapan terkait penutupan sejumlah jalan dalam penerapan PPKM, di Palangka Raya, Rabu (14/7).

Srikandi Partai NasDem ini melanjutkan, apabila memang tujuan dari penutupan itu agar masyarakat berdiam di rumah, daripada kesulitan di jalan, ada baiknya diberikan penjelasan. Penutupan justru memberikan kesulitan bagi masyarakat yang bekerja pada siang hari. Menuju tempat kerja saja harus berputar-putar.

Seharusnya, kata Ketua DPW Partai NasDem ini, penyekatan dilakukan di luar jam kerja masyarakat. Biarkan masyarakat melintasi jalur-jalur umum dengan normal pada jam kerja. Di luar jam kerja, penyekatan dapat dilakukan karena tidak mengganggu aktivitas selama bekerja.

Menurutnya, banyak orang salah persepsi, menghubungkan penyekatan jalan menuju Bundaran Besar dengan gubernur, karena posisi rujab di situ. Padahal, kebijakan dalam kota itu kebijakan yang dikeluarkan wali kota.

Sejumlah kalangan sudah melakukan kritik, kata Faridawaty, atas penutupan tersebut. Tidak saja dikritik, masyarakat juga meminta penjelasan apa korelasi penutupan dengan penurunan angka terpapar Covid-19. Sosialisasi wajib dilakukan sesering mungkin, sehingga memberikan pemahaman yang tepat bagi masyarakat.

Kebijakan agar untuk ambulans, ungkap Faridawaty, baik membawa pasien sakit ataupun jenazah ada petugas yang piket dan sigap di area penyekatan untuk buka tutup. Itu kalau ada pemakaman jenazah, tidak perlu ikut berputar-putar, termasuk petugas bagian itu di RS. Kasihan pas berangkat tugas buru-buru untuk mengurus jenazah harus kesulitan mencari jalan alternatif. ded/nvd

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *