Status Kesehatan Kalteng Kurang baik

  • Bagikan
MELAWAN COVID-19 - Kawasan bandara Tjilik Riwut masih cukup ramai didatangi masyarakat untuk bersantai di kawasan tersebut walaupun dalam situasi pandemik. TABENGAN/YULIANUS

*Kalteng, 4 Hari, 62 Meninggal

*Seminggu 1000 Orang Terpapar di Kalteng

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Penyebaran virus Covid-19 di Kalimantan Tengah (Kalteng) sangat tinggi. Tidak tanggung-tanggung, dalam sepekan angka terpapar Covid-19 di Kalteng lebih dari seribu orang yang terpapar. Naiknya angka terpapar, juga dibarengi dengan jumlah angka meninggal dunia yang juga mengalami kenaikan.

Dari data yang dirilis Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 Kalteng, 11-14 Juli 2021, jumlah kasus kematian terkonfirmasi positif virus Corona sebanyak 62 orang. Pada Minggu (11/7) 11 orang, Senin (12/7) 13 orang, Selasa (13/7) 13 orang dan Kamis (14/7) 15 orang.

Ahli Epidemiologi Indonesia di Kalteng Rini Fortina menjelaskan, selama tahun 2021, angka kematian mencapai 501 orang. Dimana, angka kematian tertinggi pada bulan April sebanyak 97 orang. Sejauh ini pada bulan Januari 2021 terdapat 47 orang meninggal, Februari sebanyak 42 orang, Maret sebanyak 66 orang, April sebanyak 97 orang, Mei sebanyak 79 orang, Juni sebanyak 84 orang, dan Juli sebanyak 86 orang.

“Peningkatan jumlah kematian lebih dari sebelumnya merupakan salah satu indikator mulai gagalnya pengendalian kematian. Penurunan jumlah kematian mingguan berhubungan dengan adanya peningkatan jumlah testing dan tindakan tegas dalam disiplin prokes serta isolasi kasus dengan gejala ringan,” kata Rini, Rabu (24/7).

Rini juga menjelaskan, sekarang ini status kesehatan Kalteng tidak baik. Grafik kecenderungan kasus baru pada Minggu ke-71 masa pandemi Covid-19 ini, pertumbuhan kasus baru adalah  1579  kasus baru,  dengan  rata-rata harian 226  kasus per hari.  Kasus konfirmasi mingguan  meningkat 10,4% dari minggu sebelumnya.

“Peningkatan kasus dalam 3 periode mingguan secara epidemiologis memberikan peringatan akan melonjaknya kasus berikutnya. Kasus konfirmasi positif lebih banyak dari kasus kesembuhan dan kasus kematian mengalami peningkatan dari sebelumnya. Sementara laju penularan tertinggi di Kabupaten Sukamara,” ungkap Rini.

Untuk menurunkan laju pertumbuhan kasus positif maupun angka kematian, kasta Rini, maka harus lebih kuat testing, tracing dan treatment. Sekarang mulai terlihat di Palangka Raya, Kotawaringin Barat dan Lamandau.

“Tapi harus stabil dan konsisten penurunannya sampai 21 hari, dengan arti yang positif sudah sembuh dan tidak menularkan ke orang lain lagi. Banyak faktor kasus lonjakan, saran kami sampel yang diperiksa jangan terlalu lama baru diumumkan ke yang bersangkutan, itu salah satunya saja dan masih banyak lagi faktornya. Perhitungannya kan gunakan indikator yang banyak juga, jadi melewati validasi yang ketat,” kata Rini.

Masyarakat diminta lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dan tetap di rumah sampai kondisi kesehatan masyarakat membaik. Setiap unsur pengendali, aparat, pemerintah, kesehatan berkoordinasi dan bekerja sama dengan lebih kuat dari sebelumnya agar kondisi kesehatan masyarakat dapat menjadi terkendali dengan cepat.

“Kita sangat mengharapkan setiap unsur pengendali, yakni pemerintah, aparat, dan kesehatan terus berkoordinasi juga bekerja sama dengan lebih kuat dari sebelumnya, agar kondisi kesehatan masyarakat dapat menjadi terkendali dengan cepat,” harap Rini.yml/ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *