SEBAR HOAKS – Mantan Pejabat dan Akademisi Dipanggil Polda

  • Bagikan
BERITA BOHONG- Konten vaksin Cina yang telah distempel HOAX. ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Misinformasi terkait vaksin dan Covid-19 ternyata masih marak terjadi di tengah masyarakat. Bukan hanya di kalangan masyarakat awam, misinformasi juga menyentuh sejumlah kaum intelektual dan mantan pejabat di Kalimantan Tengah.

Terbaru, tim virtual police Bid Humas Polda Kalteng membina sejumlah mantan pejabat di pemerintahan maupun akademisi yang ada di Palangka Raya. Mereka dibina setelah terbukti menyebarkan berita hoaks terkait konten “Hati2… rakyat akan dibunuh vaksin Cina” yang disebarkan melalui grup aplikasi WhatsApp.

Sejumlah pejabat tersebut di antaranya mantan calon Wakil Wali Kota Palangka Raya HA yang juga pernah menjabat sebagai asisten III Wali Kota Palangka Raya, BS mantan anggota DPRD Kalteng 5 periode dan HS mantan Kepala Biro Hukum di Pemerintah Provinsi Kalteng.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Dedi Prasetyo melalui Kabid Humas Kombes Pol Kismanto Eko Saputro mengatakan, pembinaan terhadap sejumlah warga Kota Palangka Raya tersebut mengedepankan restorative justice yakni pembinaan.

Mereka yang terbukti menyebarkan konten hoaks diberikan pemahaman, bahwa konten yang telah disebarkan itu mengandung unsur hoaks dan melanggar UU ITE.

“Pelaku penyebar hoaks ini kita bina setelah mendapati laporan masyarakat adanya konten hoaks di aplikasi WhatsApp. Kita datangi secara baik-baik dan diberikan pemahaman agar mengerti dan tidak mengulangi perbuatannya,” katanya, Selasa (13/7).

Ia menuturkan, konten hoaks yang disebar oleh para pelaku dapat berakibat penggiringan opini negatif terhadap vaksinasi yang kini tengah menjadi program prioritas pemerintah dalam memutus mata rantai Covid-19.

Tak hanya itu, konten hoaks yang disebar juga dapat berakibat terganggunya stabilitas kamtibmas di masyarakat. Masyarakat dikhawatirkan tidak percaya dengan vaksin maupun Covid-19.

Setelah dikonfirmasi dan dilakukan pembinaan, para pelaku penyebar hoaks nyatanya hanya asal menyebarkan konten tersebut tanpa mengetahui jika informasi itu tidak benar. Setelah dibina, mereka lantas meminta maaf dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya.

“Untuk itu selalu kita tekankan kepada masyarakat agar selalu bijak dalam bermedia sosial. Saring sebelum sharing. Jangan jarimu menjadi harimaumu yang dapat berakibat buruk di kemudian hari,” imbaunya. fwa

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *