COVID-19 KALTENG-303 Positif, 13 Meninggal

  • Bagikan
MEMBLUDAK   - Tim pemakaman dari dr Doris Sylvanus Palangka Raya dan tim Satgas saat mempersiapkan jenazah, peti sampai memakamkan jenazah. Tampak sejumlah anggota tim saat beristirahat karena cukup banyak yang harus dimakamkan, Minggu (11/7) dan Senin (12/7).ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng P Erlin Hardi, mengakui, angka terkonfirmasi positif pada Senin (12/7), mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni mencapai 303 orang positif, 135 sembuh dan 13 orang meninggal. Hal ini disebabkan sejumlah daerah di Kalteng yang memang angka terkonfirmasi positifnya mengalami kenaikan cukup tinggi

Erlin Hardi melanjutkan, menyikapi naik tingginya angka terkonfirmasi, masyarakat diminta untuk menjalankan protokol kesehatan (prokes) dengan disiplin. Kondisi yang dihadapi sekarang mau tidak mau harga mati menerapkan prokes. Jangan abai, dan jangan pernah bosan dalam menjalankan prokes dengan disiplin.

“Kenaikan terkonfirmasi positif pada Senin ini tidak semata karena masyarakat bandel. Masyarakat mungkin sudah jenuh dengan kondisi yang dihadapi sekarang ini. Sudah 1,5 tahun menghadapi kondisi pandemi dengan berbagai kedisiplinan tentunya membuat kejenuhan itu muncul. Namun, ditegaskan agar masyarakat jangan jenuh, ataupun bosan, justru semakin disiplin karena menyangkut nyawa,” kata Erlin Hardi, saat dikonfirmasi tingginya angka sebaran Covid-19 di Kalteng, Senin (12/7) di Palangka Raya.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (Diskominfosatik) Kalteng Agus Djunaidy, menyampaikan, kampanye akan bahaya virus Covid-19 sejak awal sudah dilakukan. Melalui berbagai media yang tersedia, kampanye terus dilakukan demi mampu menekan penyebarannya lebih luas di Kalteng.

Tugas ini, kata Agus Djunaidy, tanggung jawab semua eleman untuk disampaikan kepada masyarakat. Namun edukasi tidak seperti hitungan matematika yang jelas hasilnya, karena ini menyangkut pola pikir orang. Ada Kelompok masyarakat yang tidak percaya covid, dan anti vaksin, jumlahnya sedikit tapi bersuara kencang.

Jumlah yang terpapar, maupun yang meninggal, jelas Agus Djunaidy, adalah fakta nyata didepan mata yang harusnya menjadi landasan berpikir masyarakat , bahwa covid itu ada, dan kapan saja bisa membunuh kita.  Namun sekali lagi, ini terkait pola pikir dan pemahaman, ibarat besi bengkok yang sulit untuk diluruskan.

“Disisi lain, ada kejenuhan di masyarakat menghadapi pandemi ini, sehingga ada kelompok masyarakat mengaggap hal ini menjadi biasa dibarengi dengan mengabaikan prokes. Sebab, 1 tahun lebih pandemi di Kalteng, sulit dipercaya bila ada masyarakat yang tidak mempercayai adanya Covid-19, karena fakta itu ada di depan mata, dan berada disekeliling kita,” tutup Agus Djunaidy.ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *