Oksigen Kosong, Permintaan Meningkat

  • Bagikan
KOSONG- Tabung oksigen kosong di Apotek Alkes Jalan Beliang, menunggu untuk isi ulang.TABENGAN/DANIEL

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Meningkatnya kasus Covid-19 di Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya menyebabkan permintaan akan oksigen meningkat. Devy, Asisten Apoteker Apotek Alkes di Jalan Beliang mengatakan, setiap hari selalu saja ada permintaan oksigen, baik isi ulang maupun tabung baru.

Namun demikian, Devy mengaku sudah hampir 2 bulan ini tabung baru tak kunjung datang. Sedangkan untuk isi ulang 2 kali sehari baru datang. Itu pun terbatas. Apalagi ternyata untuk isi ulang tabung oksigen didatangkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Untuk oksigen dengan tabung baru berkapasitas 1 kubik dibanderol Rp1.200.000. Sedangkan untuk isi ulang Rp110.000. “Tabung oksigen kalau baru termasuk dengan regulator,” ungkapnya, Selasa (6/7).

KOSONG- Tabung oksigen kosong di Apotek Alkes Jalan Beliang, menunggu untuk isi ulang.TABENGAN/DANIEL

Terkait obat Ivermectin yang biasa digunakan untuk terapi pada pasien terkonfirmasi Covid-19, Apotek Alkes tidak pernah menstok obat jenis tersebut. Sekalipun diakui Devy beberapa minggu ini banyak sekali masyarakat yang menanyakan obat tersebut.

Eva, Asisten Apoteker Apotek Alkes di Jalan Rajawali juga mengatakan hal senada. Menurutnya, permintaan akan oksigen begitu meningkat.

“Dari gudang di Jalan Yos Sudarso, tabung baru 1 bulan lebih kosong. Kalau obat Oseltamivir harga Rp198.000 per keping isi 10,” tandasnya.

PASOKAN BELUM DATANG- Apotek Kimia Farma Jalan Diponegoro oksigen juga kosong.TABENGAN/DANIEL

Kelangkaan oksigen juga dibenarkan oleh Handoko, Asisten Apoteker di Apotek Kimia Farma Jalan Diponegoro, Palangka Raya. Menurutnya, permintaan oksigen dalam wadah ukuran 1 kubik hari demi hari semakin meningkat, sementara persediaan terbatas.

Pegawai Apotek BUMN tersebut mengatakan, beberapa waktu belakangan ini, pasokan oksigen dari Banjarmasin belum juga datang, padahal semua jaringan Apotek Kimia Farma menerima banyak permintaan masyarakat akan oksigen.

“Untuk oksigen sudah lumayan juga ini masih tunggu, belum dikirim dari Banjarmasin. Harga terakhir Rp1.530.000, tapi kemarin diinfokan dari Banjarmasin akan naik, karena di sana pun sudah naik harganya Rp2.200.000,” bebernya, Rabu (7/7).

Terkait obat terapi Covid-19, pria bertubuh tinggi besar itu menyebut semua yang dapat digunakan sebagai obat terapi Covid-19 masih kosong di semua jaringan Kimia Farma.

“Imbauan dari Menteri Kesehatan supaya harga obatnya jangan mahal, tapi masih kosong di sini, termasuk Ivermectin di dalam daftar juga dicantumkan.  Kita belum pernah malah isi Ivermectin,” tandasnya.

Stok RS Aman

Kepala Rumah Sakit Perluasan (RSP) Hotel Batu Suli dr Probo Wuryantoro mengatakan, baik RSUD Kota Palangka Raya maupun RSP telah melakukan sejumlah langkah mitigasi guna mengantisipasi tingginya lonjakan kasus. Sesuai instruksi Kementerian Kesehatan dalam juknis penanganan Covid-19, yang menjadi prioritas masuk rumah sakit adalah mereka yang bergejala sedang hingga berat dan membutuhkan terapi oksigen. Dibatasi khusus bagi mereka yang memiliki saturasi oksigen di bawah 95 persen.

“Bagi mereka yang tanpa gejala ataupun bergejala ringan, memang kita anjurkan untuk isolasi mandiri. Namun, tentu dalam pengawasan tenaga medis,” ungkapnya, Selasa.

Terkait ketersediaan tabung oksigen dan obat untuk terapi penyembuhan Covid-19, menurut dr Probo, untuk kedua fasilitas kesehatan tersebut dalam kondisi aman hingga beberapa waktu ke depan.

Namun yang cukup menjadi perhatian pihaknya, adalah ketersediaan obat antivirus Remdesivir. Di RSUD Kota Palangka Raya, diakuinya hampir 70 persen pasien yang memiliki gejala berat memang menggunakan antivirus injeksi Remdesivir.

Meskipun perkiraannya untuk stok obat antivirus tersebut saat ini cukup hingga akhir Oktober mendatang, namun melihat tren lonjakan kasus saat ini perlu ada antisipasi sejak dini. Sebab, tak hanya Kota Palangka Raya, kota-kota lain bahkan negara lain saat ini sudah mulai kehabisan obat antivirus tersebut. Jika sebelumnya harga antivirus itu berkisar Rp300 ribu, kini melonjak hingga 400 persen hingga menyentuh angka Rp1,2 juta.

“Jika tidak mendapat terapi otimal dengan obat yang tepat, pasien gejala berat akan menderita ancaman kematian yang tinggi. Kita telah berkoordinasi dengan Dinkes, Pemko dan pihak distributor agar kita bisa pesan jauh-jauh hari,” pungkasnya.

Diketahui, sejak 10 Juni hingga 5 Juli 2021, tercatat ada penambahan 1.013 kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kota Palangka Raya. Saat ini, setidaknya ada 681 kasus aktif dan mendapatkan perawatan.rgb/dsn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *