Dokter Tak Boleh Resepkan Ivermectin untuk Obat Covid-19

  • Bagikan
Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dr Tagor Sibarani

dr Tagor:  Susu Beruang Bukan yang Dirujukan

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Masih menjadi kontroversi bahwa Ivermectin, obat cacing,  dianggap bisa meringankan pasien Covid-19 dengan gejala parah. Meski hingga saat ini butuh penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitasnya dalam penanganan Covid-19.

Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dr Tagor Sibarani menyampaikan, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) sebagai lembaga yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan serta Kementerian Kesehatan selaku otoritas kesehatan masih belum memberikan izin penggunaan Ivermectin untuk pengobatan Covid-19.

“Jadi tidak boleh konsumsi sembarangan, masih di fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh BPOM dan Kemenkes. Bahkan, dokter tidak boleh meresepkannya untuk obati Covid-19, tidak boleh. Jadi itu sudah kami sampaikan di Rumah Sakit Doris Sylvanus juga, tidak boleh karena bukan faskes yang ditunjuk sebagai fasilitas dalam penggunaan uji klinis ivermectin,” kata Tagor, Senin (5/7/2021).

Badan yang berwenang melakukan pengawasan sekaligus penindakan obat-obatan dan makanan di Indonesia tanpa izin edar itu BBPOM, sudah menegaskan tentang Ivermectin, sampai saat ini masih sebatas uji klinis. Berarti masih digunakan pada rumah sakit maupun Faskes lainnya dengan target sasaran pengguna tertentu. Setelah uji farmakologi fase keempat, ternyata obat itu masih diindikasikan untuk obat cacing.

Kehebohan Ivermectin ini hampir sama dengan penggunaan Sel punca yang juga dinilai bisa mengobati Covid-19, padahal masih dalam tahap uji klinis sehingga belum bisa digunakan. Rumah sakit tertentu ditunjuk melalui Permenkes, berwenang melaksanakan penggunaan Sel punca karena masih uji klinis.

Selain Ivermectin, begitu juga dengan susu beruang Bear Brand yang sedang viral video yang menggambarkan masyarakat tengah berebutan di salah satu ritel modern. IDI wilayah Kalteng mengimbau masyarakat sebaik percaya informasi yang terintegrasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Setiap penggunaan obat, maka ambilah informasi dari yang berwenang, Kemenkes dan BPOM, dua lembaga ini standar utama di Indonesia dalam legalisasi obat dan makanan kemasan yang beredar, informasi yang sah itu ada di dua lembaga ini. Termasuk susu beruang kalau baca komposisinya kolesterolnya lebih tinggi.

“Nah jadi kembali lagi ke Ivermectin dan susu beruang di media sosial ada testimoni, apakah testimoni itu bisa menjadi rujukan? Itu tidak boleh, sekali lagi obat-obatan itu berdasarkan ilmiah melalui uji farmakologi 4 fase dan yang berwenang mengesahkan itu adalah BPOM dan Kemenkes. Sebaiknya masyarakat cari info yang beredar rujukannya ke BPOM dan Kemenkes,” katanya. yml

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *