RSUD Doris Sylvanus Penuh

  • Bagikan
PEMERIKSAAN - Sejumlah warga dan anak-anak lama menunggu antrean Pemeriksaan Swab PCR di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya, Senin (5/7) pagi.ISTIMEWA
  • Bayi Usia 40 Hari Terpapar Covid
  • Pasien Calon Rujukan ke Doris Diseleksi
  • Pemeliharaan Alat, RSUD Batasi Pemeriksaan Swab PCR

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Kasus positif Covid-19 di Kalteng terus bertambah. Ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus Palangka Raya pun nyaris penuh. Tidak menutup kemungkinan akan menyiapkan tenda darurat bila jumlah pasien terus bertambah. Bahkan, ada bayi berusia kurang lebih 40 hari ikut terkonfirmasi positif.

Direktur RSUD dr Doris Sylvanus drg Yayu Indriaty menyampaikan, pasien di RS Doris selalu penuh, kecuali untuk tempat perawatan bayi. Bahkan, ada rujukan dari daerah yang tidak diterima karena sudah tidak ada tempat lagi, terutama di ICU dan HCU penuh 100 persen.

“Doris itu pada intinya selalu penuh. Sudah lebih dari 7 ribu yang kami tangani baik positif, suspek yang sudah diisomankan. Setiap hari kami melakukan evaluasi, pasien yang sudah mondok 7 hari dievaluasi lagi apabila tidak ada perburukan kondisi secara umum, maka dialihkan untuk isolasi mandiri di rumah. Dengan demikian, pasien baru bisa masuk,” kata Yayu, Senin (5/7).

Pemasangan tenda darurat sebenarnya termasuk yang paling terakhir apabila pasien terus bertambah, namun harus berkoordinasi dengan Satgas maupun lainnya sama-sama mengatasi hal ini. Tapi RS memang punya kontigensi plan sendiri, setidaknya ada 4.

Pertama, mengoptimalkan semua sumber daya yang ada di dalam RS. Kedua, menambah jumlah tempat tidur. Ketiga, optimalkan bagian-bagian tertentu, misalkan penambahan kapasitas tempat tidur di gawat darurat dengan mengatur tata letak, supaya kuota menjadi lebih banyak.

Keempat, harus mengembangkan RS seperti pasang tenda dan lain-lain, tidak mudah karena harus menyediakan seluruh fasilitas pendukungnya.

“Sampai dengan Minggu (4/7) malam, pasien calon rujukan ke Doris tidak bisa diterima, diseleksi lagi mana yang rujukan survive karena seperti itu yang kita tolong karena tidak terlambat, masih bisa diselamatkan,” imbuh Yayu.

Kemudian mempercepat hasil laboratorium, satu hari sudah ada hasilnya, periksa pagi malam sudah keluar hasilnya. Pihak RS terus mengevaluasi bahkan sampai tengah malam, memastikan bisa keluar yang mana dan bisa diganti dengan pasien yang keadaannya seperti apa, namun keadaan buruk yang lebih diprioritaskan.

Apabila tren kasus terus meningkat dan ada lonjakan pasien, maka RS harus siap. Harus dihadapi bersama-sama. Namun hal itu tidak diharapkan terjadi. Dengan adanya pembatasan pergerakan dan semoga berhasil karena pasien yang ada di RS Doris saat ini terpaparnya dari luar daerah.

Sementara itu, pemeliharaan alat PCR membuat RS melakukan pembatasan pemeriksaan swab PCR. Peralatan tersebut tidak bisa bekerja terus menerus selama 24 jam. Sebelumnya pemeriksaan sampai 400 sampel, namun kini hanya 250 dari seluruh daerah. Pemeliharaan dilakukan agar alat PCR tetap optimal. yml

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *