Efek Domino SE Gubernur ke Ekonomi Kalteng

  • Bagikan
Pengamat Ekonomi dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya Fitria Husnatarina

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Surat Edaran (SE) Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Nomor 443.1/170/Satgas Covid-19 tentang Peningkatan Upaya Penanganan Covid-19 dan Percepatan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Wilayah Kalteng, terus mendapat sorotan miring.

Pengamat Ekonomi dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya Fitria Husnatarina mengatakan, SE Gubernur yang  terbit pada 28 Juni 2021 memang ada bagian yang dirasa sangat mengkhawatirkan terkait aktivitas ekonomi, seperti efek domino.

Buntutnya menimbulkan pertanyaan, apakah betul dengan ketentuan PCR itu menjamin grafik pasien Covid-19 menjadi melandai?  Dan, apakah betul aktivitas penerbangan menjadi salah satu faktor merebaknya virus ini di Kalteng?

“Ada banyak pertanyaan yang nanti kaitannya dengan bagaimana efek ini ke sektor ekonomi,” ungkap Fitria kepada Tabengan, Selasa (29/6).

Fitria mengatakan bahwa yang sungguh akan masyarakat hadapi adalah berkurangnya kunjungan dan aktivitas yang mendatangkan pihak luar ke Kalteng.  Selanjutnya, hal krusial adalah option yang diambil pemerintah ini apakah sudah betul mempertimbangkan keseimbangan antara nanti efek ekonomi dan efek kesehatan? Jika ternyata sebuah kebijakan tidak berdampak signifikan terhadap tujuan, apa alasan sehingga kebijakan tersebut dibuat?

“Maka kita tentunya lost resource dan lost momentum. Saya khawatir kebijakan-kebijakan kita cenderung short cut, jalan pintas, ingin cepat ada kebijakan tanpa melihat betul secara komprehensif apa sebenarnya penyebab ledakan pasien Covid-19 di Kalteng,” ujarnya.

Dosen Fakultas Ekonomi UPR tersebut juga mempertanyakan, apakah pernah pengambil kebijakan melihat pola-pola dalam gelombang Covid-19 ini? Jangan-jangan pengambil kebijakan tidak melihat ada faktor lain seperti kultur, kondangan, pesta dan lainnya yang justru masih diberi peluang. Atau, di lain posisi gelombang disebabkan semua mulai bekerja dari kantor, atau gelombang lainnya karena aktivitas di sekolah-sekolah.

“Nah pola ini yang perlu dijawab dengan tepat. Jangan dulu buru-buru bercermin dari provinsi lain atau kota lain, kita belum tentu seperti itu,” katanya lagi.

Fitria menambahkan, jika semua pertanyaan di atas betul sudah dijawab dari berbagai baseline data dan sudah membaca pola-pola yang memungkinkan terjadinya ledakan peningkatan pasien, tentu kebijakan ini menjadi baik untuk menahan lajunya percepatan Covid-19.

Tapi mohon diingat, sekali lagi sektor yang harus ditangani tidak hanya satu, bagaimana pemerintah daerah pun harus clear dengan kebijakan-kebijakan kompensasi bagi sektor lainnya, termasuk sektor ekonomi.

“Kebijakan kompensasi yang tentunya aplikatif dan solutif. Kerja keras memang, Covid ini menguji kita mampu melihat segala sesuatunya secara holistik, jangan parsial, kasihan yang merasa menjadi prioritas ke sekian. Intinya, holistik dan komprehensif,” tutup Fitria. dsn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *