DAMPAK SE GUBERNUR-Penerbangan Turun 80 Persen

  • Bagikan
ilustrasi/net

 *Pesawat Garuda Indonesia setiap hari sekali jadi 2 kali seminggu

*Pesawat Lion Air 6 kali sehari jadi 1 kali sehari

*Pesawat Batik Air 3 kali sehari jadi 1 kali sehari

*Citilink Putuskan Tidak Terbang

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Edaran gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) yang mewajibkan masuk Kalteng wajib polymerase chain reaction (PCR) mulai berjalan. Langkah tersebut diambil untuk menekan penyebaran Covid-19 di Kalteng. Pembatasan orang masuk ke Kalteng, khususnya dari zona merah diharapkan menekan laju penyebaran Covid-19.

Namun demikian, PCR yang diwajibkan pemerintah apabila melewati jalur udara dan laut, sedikit banyak memberikan dampak negatif khususnya bagi penumpang pesawat ke Kalteng. EGM Angaka Pura II Bandara Tjilik Riwut palangka Raya Siswanto, mengatakan, edaran yang diberlakukan sejak 1 Juli 2021 tersebut ada sebagian penumpang yang tidak mengetahuinya.

Siswanto mengakui, diberlakukannya edaran tersebut sejumlah penumpang membatalkan penerbangan menuju Kalteng, khususnya melalui Bandara Tjilik Riwut. Memang, data terkait dengan berapa penumpang yang membatalkan keberangkatan masih belum bisa dipastikan, hanya saja memang ada penumpang yang membatalkan keberangkatan ke Kalteng.

“Berlakunya edaran tersebut membuat penerbangan, dan penumpang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penerbangan dan penumpang mengalami penurunan mencapai 80 persen, akibat rendahnya penumpang pesawat. Tidak itu saja, sejumlah maskapai melakukan kebijakan dalam mengantisipasi minimnya penumpang, dampak dari edaran tersebut,” kata Siswanto, saat dikonfirmasi terkait kondisi penerbangan paska diberlakukannya edaran masuk Kalteng wajib PCR, Jumat (2/7) di Palangka Raya.

Siswanto melanjutkan, maskapai melakukan pengurangan jadwal penerbangan, bahkan ada maskapai yang tidak terbang sama sekali. Apa yang dilakukan para maskapai ini menyesuaikan kondisi di lapangan. Di Bandara Tjilik Riwut ada sejumlah maskapai penumpang yang beroperasi, yakni Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air dan Citilink.

Sebagai contoh, kata Siswanto, Garuda Indonesia yang biasanya terbang setiap hari sekali, mengubah jadwal menjadi 2 kali dalam seminggu. Lion Air yang biasanya 6 kali sehari, mengubah jadwal penerbangan menjadi 1 kali sehari. Demikian pula dengan Batik Air, yang biasanya 3 kali sehari, turun menjadi 1 kali sehari. Sementara Citilink mengambil keputusan untuk tidak melakukan penerbangan sama sekali.ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *