Waspada Hoaks tentang Vaksin

  • Bagikan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dr Suyuti Syamsul

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Masih banyak berita hoaks mengenai vaksinasi Covid-19 beredar tengah di masyarakat, disebarluaskan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat diminta tidak asal percaya informasi yang tidak jelas sumbernya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dr Suyuti Syamsul mengingatkan, orang yang dengan sengaja menyebarluaskan berita bohong mengenai vaksin diibaratkan orang gangguan kejiwaan dan suka terhadap teori konspirasi, bukan berdasarkan fakta-fakta ilmiah.

“Kalau orang anti vaksin, apa pun yang dijelaskan mengenai vaksin dia tidak akan terima. Data-data faktual pun kita sampaikan, tetap tidak akan menjadi pertimbangan. Karena bagi mereka, Covid ini konspirasi. Orang yang menganggap Covid-19 ini konspirasi itu bukan perlu penerangan dari kami, tetapi perlu konsultasi dengan ahli kejiwaan. Semakin kuat kepercayaan terhadap teori konspirasi itu berbanding lurus dengan patologi kejiwaan,” kata Suyuti, Minggu (27/6/2021).

Menurut Suyuti, kalau ada orang yang percaya mengenai hoaks, masih percaya bahwa Covid-19 ini konspirasi tidak ada guna melawannya dengan argumentasi dan data ilmiah karena menyangkut patologi kejiwaan. Maka, yang harus dilakukan adalah sembuhkan gangguan jiwanya.

Agar tidak termakan hoaks, Suyuti mengimbau kepada masyarakat mengedepankan fakta ilmiah karena sudah pasti melalui uji kredibilitas dan validitas. Apa yang disampaikan itu sudah berdasarkan kenyataan, bukan berita bohong maupun teori konspirasi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dengan berbagai berita bohong yang bertebaran di luar.

Meskipun ada ribuan berita bohong yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, namun tidak boleh menyerah. Vaksinasi tetap dikebut karena itu cara untuk membebaskan diri dari pandemi.

Salah satu berita bohong mengenai vaksin bahwa vaksin itu untuk memandulkan orang. Secara logika, kenapa harus memprioritaskan orang yang usianya 60 tahun ke atas untuk vaksinasi, padahal mereka sudah melewati usia subur kehamilan. Itu tidak logis, tapi bagi yang percaya teori konspirasi, maka tidak akan percaya dengan kebenaran ini.

Berita hoaks lainnya mengenai vaksinasi, setelah 2 tahun vaksin si penerima akan meninggal dunia. Faktanya kenapa lansia masih menjadi prioritas vaksinasi. Namun, lanjut Suyuti, analisis logis ini tidak berlaku bagi penganut teori konspirasi karena mereka memiliki kecenderungan paranoid, selalu curiga sama orang. Melawan pembuat berita bohong tidak bisa dengan teori ilmiah dan kebenaran, tapi jalan keluarnya ketemu ahli jiwa biar diterapi. yml

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *