Pandangan Profesor Olahraga tentang PON XX

  • Bagikan
Mantan Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Prof Rusli Lutan

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua semakin dekat. Multievent olahraga ini akan digelar pada 2-15 Oktober 2021. Namun, PON kali ini dinilai berbeda dengan event yang pernah digelar sebelum-sebelumnya.

Mantan Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Prof Rusli Lutan menyampaikan, PON kali ini beda dengan di Riau maupun Jawa Barat. Situasi iklim, sosial, budaya, ekonomi maupun politiknya berbeda.

“Penganggaran cukup, tidak usah berlebihan, dimensi PON Papua beda, lebih banyak aspek sosial politiknya harus kita dukung. Saya sudah ke sana lihat situasi riil, dulu kita bisa menyewa mobil, di sana mau nyewa bagaimana, barangnya tidak ada, makanan mahal,” kata Rusli, baru-baru ini.

Pria asal Kapuas yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua I Bidang Pembinaan dan Strategis KONI Jawa Barat ini menganjurkan, Kalteng menyiapkan andalannya sebaik mungkin dari sekarang, terutama dayung, mau mengambil medali dari nomor mana saja.

Kalau andalan di perahu naga namun masih lemah dalam teknik, maka kelemahan dimainkan dalam training camp supaya kemampuan penyerapan oksigennya baik, VO2Max bagus minimal 75.

Jawa Barat sudah latihan 3 kali sehari sejak tahun lalu dengan dukungan yang tidak berlebihan, tapi cukup karena ingin sapu bersih medali emas di nomor dayung. Kalteng fokus mau ngambil medali dari nomor yang mana, karena Papua juga ingin 3 besar nasional di PON ini dengan cara apa pun.

Perlu seimbang dengan persiapan, jangan biarkan masalah sekecil apa pun, dukungan semua stakeholder, pemerintah, swasta, korporat dan masyarakat bahwa Kalteng punya misi khusus untuk menaikkan peringkat prestasi. Kalteng memiliki prestasi terbaik, pernah di atas Kalsel dan itu hebat, penuh kebanggaan.

“Masalahnya sekarang waktu sudah mepet, tapi silakan terapkan sistem pelatihan yang bermutu, sudah masuk sistem training, tidak bisa lagi menggunakan periodesasi berjalan. Jadi harus melekat dalam siklus mingguan dan harian, semoga ada peningkatan dari hari ke hari. Kalau bisa pencanangan Pelatda secepatnya,” imbuh Rusli.

Menurut Rusli, latihan bermutu, melakukan persiapan secara komprehensif, berbagi kerjaan, pengawasan, keinginan yang kuat dan jangan ada yang hambat. Kalau ada yang hambat keluarkan dari sistem. Target tidak usah muluk-muluk, masuk papan 3 saja cukup.

Dalam melakukan persiapan, lanjut Rusli, waktu sangat penting. Waktu merupakan sumber daya yang langka, setiap hari waktu terus berjalan. Dukungan nutrisi untuk para atlet harus bagus karena untuk pemulihan. Asupan gizi pada atlet yang sehat dan seimbang, terutama karbohidrat loading muatan, tidak usah dibatasi makan.

“Jadi saya berharap KONI memberikan kampanye melalui pemahaman dalam rangka mengangkat nama daerah, sehingga gubernur lebih menghayati, orang jauh lebih bangga kalau peringkat kita naik daripada  ‘maaf’ misalnya ada infrastruktur. Itu yang sudah terbukti di mana-mana,” pungkas Rusli.

Dia melihat 16 cabang olahraga lolos dari Kalteng itu luar biasa. Kalau cuma hitung medali kapan Kalteng bisa ikut PON. Kemudian defile dari Kalteng cuma beberapa orang, bagaimana orang menilainya? Masa kalah sama Kalsel, Kaltim, Kalbar dan lainnya?

Mengenai dukungan anggaran, Rusli mengharapkan semua harus memahami, Dispora sebagai tangan kanan pemerintah, usulan sebenarnya dari bawah, bukan dari KONI saja, tapi juga dari tiap cabor, peralatan dukungan latihan dan lainnya, nanti diverifikasi dan teken perjanjian.

“Saya dengar memang anggaran tidak besar, nanti jangan bingung setelah dapat medali dan tidak bisa memberikan penghargaan untuk atlet kita. Atlet harus makmur. Mereka adalah aset, terus didorong, kondisi bugar, tidak cedera, fokus dan tidak disorientasi, modal tandingnya jangan kendor. Tidak berlebihan tapi mencukupi dengan persiapan, pelaksanaan sampai pulang nanti,” tegas Rusli.

Pendekatan sosial budaya, Jawa Barat sudah menemui semua kepala adat di Papua. Kalteng juga perlu, DPRD meninjau, pemerintah meninjau dan harus dikawal setiap cabang olahraga. Juara umum dukungan dengan kesisteman dari semua pihak, antara nonteknis dan teknis harus nyambung.

Nonteknis bagus teknis tidak bagus, maka tidak bisa. Keserasian itu harus dicita-citakan. Semakin mengerti masalahnya, simpul-simpul masalahnya, jangan  biarkan masalah sekecil apa pun terjadi dalam dunia olahraga karena bergerak dalam waktu yang sangat singkat. Tiap menit dan detik itu ada maknanya. yml

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *