Kasus Covid-19 Anak di Palangka Raya Masih Tinggi

  • Bagikan

*801 kasus (11,42 persen) menginfeksi kelompok usia di bawah umur, 0-15 tahun.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM  – Berdasarkan rilis data Tim Satgas Covid-19 Kota Palangka Raya per 22 Juni 2021, akumulasi kasus konfirmasi positif Covid-19 telah menyentuh angka 7.012, sedangkan kesembuhan mencapai 6.389 jiwa. Dari jumlah positif tersebut, 801 kasus atau 11,42 persen di antaranya menginfeksi kelompok usia di bawah umur, 0-15 tahun.

Kepala Laboratorium Mikrobiologi Klinik Biomekuler Covid-19 RSUD Kota Palangka Raya dr Mayawati ES Mewo MKedKlin SpMK

Kepala Laboratorium Mikrobiologi Klinik Biomekuler Covid-19 RSUD Kota Palangka Raya dr Mayawati ES Mewo MKedKlin SpMK menuturkan, kasus yang menginfeksi kelompok usia muda tersebut cukup signifikan. Untuk kelas usia 0-5 tahun tercatat ada 240 kasus konfirmasi positif Covid-19, kelas usia 6-10 tahun 252 kasus dan kelas usia 11-15 tahun 309 kasus. Sejauh ini, belum ditemukan kasus yang sampai menyebabkan adanya anak-anak meninggal dunia akibat Covid-19.

“Data akumulatif ini diambil dari 3 unit laboratorium yang melayani pemeriksaan hasil sampel swab PCR di Kota Palangka Raya. Beberapa waktu belakangan juga jika dilihat dari data yang diambil oleh RSUD Kota saja sudah ada peningkatan yang lumayan,” ungkapnya saat dikonfirmasi Tabengan, Rabu (23/6).

Adanya hal tersebut, dikhawatirkan Maya akan berpengaruh terhadap sejumlah kebijakan yang saat ini tengah disusun oleh Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya. Saat ini yang cukup menjadi perhatiannya adalah rencana dilaksanakannya pembelajaran tatap muka (PTM) tahun ajaran 2021/2022 dalam waktu dekat.

Masih ditemukannya kasus pada kelompok usia anak, dikhawatirkan justru akan membuat ledakan kasus khusus untuk usia sekolah tersebut, jika beberapa upaya pengendalian sebaran Covid-19 belum terlaksana maksimal.

“Jika kasus masih seperti ini, sebaiknya jangan dulu laksanakan PTM. Tunggu sebaran virus ini mereda dulu. Karena sekarang kasus lagi meningkat banyak. Ada baiknya vaksinasi untuk guru dan tenaga pendidik serta orang tua/wali murid diselesaikan semaksimal mungkin demi memberi perlindungan bagi lingkungan anak,” jelasnya.

Anak-anak usia di bawah 18 tahun saat ini pun, menurut Maya, masih belum diperkenankan untuk mengikuti proses vaksinasi Covid-19, sehingga kerentanan serta potensi mereka untuk terpapar virus saat beraktivitas di luar rumah sangat besar.

Untuk itu, ia menekankan agar guru-guru dan orang tua murid agar bisa menjalankan protokol kesehatan (prokes) dengan ketat, serta turut mengedukasi anak-anaknya. Orang tua pun diharapkannya bisa meminimalisir kegiatan di luar rumah apabila tidak diperlukan. Jangan sampai kegiatan orang tua yang selalu kumpul-kumpul, mengikuti pertemuan hingga beraktivitas ke sana ke mari justru membawa virus ke rumah dan anaknya menjadi korban.

“Anak-anak yang belum bisa divaksin, menjadikan mereka salah satu kelompok paling rentan terinfeksi Covid-19. Kita berdoa supaya vaksin untuk mereka bisa segera ada. Tetap jaga prokes dengan ketat dengan tetap pakai masker dengan benar, menjaga jarak dan jangan kumpul-kumpul, dan selalu mencuci tangan. Ini tidak akan berubah, dan tetap menjadi cara efektif menghindari dari terinfeksi,” pungkasnya.rgb

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *