Hinting Pali, Ini Penjelasan MAKI dan MB-AHK

  • Bagikan
Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MB-AHK) Palangka Raya Parada Lewis Kobek Dandan Ranying- Ketua Umum Majelis Agama Kaharingan Indonesia (MAKI) Kalimantan Tengah (Kalteng) Suel.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Ritual Hinting pali menjadi sangat ramai dibicarakan, belakangan ini. Forum Pemuda Dayak (Fordayak) Kalimantan Tengah (Kalteng), ormas yang paling sering dan memopulerkan ritual ini demi mendapatkan solusi terbaik atas permasalahan yang terjadi. Namun, langkah yang ditempuh Fordayak Kalteng terkait hinting pali menuai perdebatan.

Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan  (MB-AHK) Palangka Raya Parada Lewis Kobek Dandan Ranying menjelaskan, ritual hinting pali merupakan ritual keagamaan Hindu Kaharingan, bukan ritual adat kesukuan.

Ritual keagamaan hinting pali itu seharusnya digunakan untuk hal sakral, seperti  kegiatan tiwah. Tujuannya untuk mensterilkan lokasi kegiatan agar tidak bisa berbuat sembarangan di dalamnya dan tidak dimasuki secara sembarangan.

Parada menegaskan, tidak pernah dilakukan dari zaman dulu hinting pali digunakan menghentikan aktivitas, seperti meng-hinting pali perusahaan. Hinting pali digunakan untuk hal-hal yang bersifat sakral, salah satunya tiwah. Selain tiwah, hinting pali dipasang ketika terjadi sebuah kasus pembunuhan ataupun kejadian seseorang mati tenggelam.

“Mengapa lokasi orang meninggal dibunuh dan orang meninggal akibat tenggelam di-hinting pali, karena dipercaya di lokasi tersebut memiliki terdapat hal buruk dan membawa sial. Hinting pali bertujuan mencegah orang keluar masuk lokasi tersebut dan mencegah efek sial itu ke orang lain,” kata Parada, menjelaskan arti hinting pali bagi umat Hindu Kaharingan, di Palangka Raya, Minggu (13/6).

Parada memaparkan, selesai hinting pali dipasang, dilanjutkan dengan pemanjatan doa-doa dengan tujuan hal-hal yang bersifat negatif, sial dan buruk pergi dari lokasi tersebut. Selesai doa dipanjatkan, barulah hinting pali dibuka kembali. Hinting pali juga dipasang oleh tokoh keagamaan Hindu Kaharingan yang disebut basir.

“Itu fungsi hinting pali dari sisi mencegah hal-hal yang bersifat buruk. Sementara, hinting pali yang dilaksanakan untuk upacara tiwah adalah menyatakan bahwa lokasi tersebut suci, sehingga tidak ada barang-barang yang bisa dibawa keluar masuk. Jadi tidak ada hinting pali untuk membuat aktivitas menjadi terhenti,” jelas Parada.

Sementara dalam Pemahaman terkait hinting pali secara universal diberikan Ketua Umum Majelis Agama Kaharingan Indonesia (MAKI) Kalimantan Tengah (Kalteng) Suel.

Suel menjelaskan, bagi orang Kaharingan, yang namanya hinting pali bisa masuk adat, bisa masuk budaya dan juga agama. Bicara sisi keagamaan, sama-sama diketahui itu dilakukan oleh umat Kaharingan dalam menjalankan ibadahnya, salah satunya tiwah. Sama, makna dari hinting pali itu untuk menyakralkan atau menyatakan lokasi dalam wilayah itu suci.

Berbicara budaya dan adat istiadat, tegas Suel, langkah yang dilakukan sejumlah pihak dalam memasang hinting pali untuk menyelesaikan permasalahan adalah benar, dan MAKI Kalteng mendukung itu. Intinya, ketika terjadi permasalahan dipasanglah pembatas atau tanda berupa hinting pali, agar diketahui bahwa lokasi tersebut sedang bermasalah.

“Tujuannya, selama proses penyelesaian masalah tidak ada yang mengklaim bahwa itu adalah miliknya. Adanya hinting pali juga mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antara mereka yang sedang bersengketa. Pemasangan juga dilakukan oleh tokoh keagamaan umat Kaharingan. Jadi, kita sangat berterima kasih apabila hinting pali digunakan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” terang Suel.ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *