Varian Baru Corona Penyebab Angka Kematian Tinggi

  • Bagikan
Ketua Umum PAEI Cabang Provinsi Kalimantan Tengah Rini Fortina SKM MKes

*) Bisa Memperburuk Kondisi Pasien dengan Sangat Cepat

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Para ahli epidemiologi perlahan mulai menemukan jawaban, mengapa kasus kematian terkonfirmasi positif Virus Corona (Covid-19) masih tinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng), terkhusus di Kota Palangka Raya. Berdasarkan Case Fatality Rate (CFR) 2,1 untuk Kalteng dan Kota Palangka Raya 3,1.

Ketua Cabang Perkumpulan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Kalteng Rini Fortina SKM MKes menyampaikan, kecepatan penularan Covid-19 di Kalteng cukup tinggi pada Februari-Maret, terutama di Palangka Raya. Kemudian angka kematian juga tidak kunjung turun malah bertambah naik.

“Itulah yang kami amati dengan Dinkes Kota Palangka Raya dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng juga, saya bilang ke mereka, penyebabnya kelihatannya ada dua hal, yakni deteksi dini yang lemah dan adanya varian baru, tapi waktu itu belum ada hasil dari Litbangkes Kemenkes, jadi belum berani memastikannya,” kata Rini, Senin (10/5).

Namun adanya pemberlakuan PPKM Mikro yang sudah berjalan kurang lebih 7 minggu diawasi ketat oleh Babinsa, kepolisian dan aparat kelurahan, cukup berhasil karena menekan angka penularan kasus baru, sehingga cenderung perlahan menurun. Namun kematian meningkat 0,1 sampai 0,3 persen.

Menurut Rini, penerapan PPKM Mikro masif karena sudah terbukti di Palangka Raya berhasil menekan laju penularan kasus baru. Kabupaten yang kasusnya meningkat disarankan terapkan PPKM Mikro lebih masif lagi.

Sementara itu, varian baru Corona dari India masih belum ditemukan di kabupaten lain, masih pemeriksaan sampel di Litbangkes Kemenkes. Ia meminta kepada masyarakat untuk perketat protokol kesehatan karena sampai saat ini masih ampuh untuk mencegah penularan apa pun mutasi virusnya.

Kepala Dinkes Provinsi Kalteng dr Suyuti Syamsul menyampaikan, varian virus Corona (SARS COV-2) B.1617 varian India merupakan varian baru virus Corona yang mengalami mutasi ganda. Varian ini lebih cepat menular dari varian lain. Gejalanya ringan, tetapi pemburukan kondisi pasien bisa berlangsung sangat cepat.

“Tidak ada bukti sampai saat ini virus ini resisten sama vaksin yang ada. Dari tiga sampel pasien yang dinyatakan positif di Kalteng, ketiganya tidak memiliki riwayat perjalanan keluar negeri atau daerah. Artinya pasien tertular di Kalteng. Dari sisi manajemen terapi dan pencegahan penularan, tidak ada perbedaan dengan varian sebelumnya,” imbuh Suyuti.

Kendati demikian, untuk mencegah penularannya hanya perlu menjalankan protokol kesehatan secara ketat, baik dan benar. Ia berpesan jangan pernah menyentuh muka dan hidung, sekali pun sudah sedemikian gatalnya, kalau tidak yakin tangannya bersih. yml

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *